TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham di kawasan Asia diperkirakan akan dibuka dengan tren pelemahan yang dominan. Hal ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran yang terjadi pada sektor produsen chip di Amerika Serikat, yang turut menyeret indeks saham negara Paman Sam.
Kontrak berjangka saham memberikan indikasi adanya penurunan tajam yang akan dialami oleh pasar saham Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, Australia diprediksi akan mengalami penurunan yang lebih moderat.
Penurunan tajam ini terjadi setelah indeks raksasa semikonduktor Amerika Serikat tercatat melemah 2,2%. Akibatnya, indeks S&P 500 yang merupakan patokan utama pasar saham AS, harus ditutup nyaris tidak berubah meskipun mayoritas saham di dalamnya menunjukkan tren kenaikan.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga terus menunjukkan tren penurunan. Minyak mentah Amerika Serikat terpantau turun di bawah level US$82 per barel.
Patokan global harga minyak, Brent, sendiri telah anjlok paling tajam dalam lebih dari tiga bulan pada hari Senin. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat menghentikan sementara serangan hariannya terhadap Iran.
Situasi ini memberikan tekanan yang semakin meningkat bagi perusahaan-perusahaan dengan pengeluaran terbesar di bidang kecerdasan buatan (AI). Mereka kini menghadapi tantangan untuk dapat membenarkan investasi besar yang telah mereka lakukan.
Biaya perlindungan utang yang dimiliki oleh Nvidia Corp terhadap risiko gagal bayar dilaporkan melonjak tajam. Lonjakan ini terjadi di tengah ramainya kesepakatan-kesepakatan terkait kecerdasan buatan yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari US$750 miliar.
"Saham-saham Asia diprediksi akan dibuka dengan sebagian besar melemah setelah aksi jual besar-besaran di sektor produsen chip yang menyeret saham AS turun," demikian dikutip dari Bloomberg.
"Sementara, harga minyak dunia juga terus mengalami penurunan," lanjut kutipan tersebut, menegaskan sentimen negatif yang merayap di pasar global.