TREN.BISNISMARKET.COM - Serangkaian isu yang menimpa sektor manufaktur Indonesia, mulai dari penghentian operasi, perumahan pekerja, hingga potensi relokasi investasi ke luar negeri, menjadi indikasi melemahnya daya saing industri nasional saat ini.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan adanya ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang menyasar ribuan karyawan di empat perusahaan manufaktur. Situasi ini dipicu oleh dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel yang memengaruhi rantai pasok.

Said Iqbal, yang juga merupakan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), menyampaikan temuan ini setelah melakukan peninjauan bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan serikat pekerja terkait.

Dilansir dari Bisnis.com, PT Pakerin di Mojokerto menjadi salah satu sorotan utama karena telah menghentikan sekitar 80% kegiatan produksinya, yang mengakibatkan sekitar 2.000 pekerja terpaksa berhenti bekerja.

Selain itu, PT Feng Tay di Kabupaten Bandung, yang merupakan mitra produsen alas kaki merek global Nike, terpaksa merumahkan sekitar 4.000 karyawannya. Perumahan ini terjadi karena perusahaan menghadapi kendala keterlambatan pasokan bahan baku akibat konflik geopolitik yang berkelanjutan.

Di sektor garmen, PT Amos yang berbasis di Korea Selatan dilaporkan belum membayarkan gaji karyawannya selama empat bulan terakhir, bahkan masalah BPJS Kesehatan para pekerja pun turut mencuat ke permukaan.

Said juga menemukan adanya potensi PHK massal di perusahaan komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto yang mengancam ribuan pekerja. Ia menyebutkan bahwa ketidakpastian kondisi pasar membuat prinsipal di Jepang mulai memindahkan sebagian produksinya dan melakukan diversifikasi ke komponen kendaraan listrik.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmat Basuki, mengonfirmasi bahwa dua fasilitas yang dikabarkan akan direlokasi adalah pabrik komponen otomotif Grup Yazaki, Jepang, yang fokus pada produksi wiring harness. Ia menilai dampak langsung terhadap industri otomotif domestik relatif terbatas karena mayoritas produksi pabrik tersebut ditujukan untuk pasar ekspor.

"Setahu saya dua pabrik tersebut orientasinya ekspor. Biasanya pabrik wiring harness cukup besar karena [merupakan industri] padat karya," ujarnya kepada Bisnis, Senin (22/6/2026).