TREN.BISNISMARKET.COM - Bank Indonesia (BI) diprediksi akan mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada semester pertama tahun 2026. Kebijakan moneter ini dipandang perlu untuk merespons tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus membayangi stabilitas pasar keuangan domestik.

Dilansir dari Money, pergeseran fokus bank sentral saat ini lebih diarahkan pada penguatan nilai tukar mata uang Garuda di tengah meningkatnya tekanan ekonomi eksternal. Meski demikian, otoritas moneter diperkirakan masih akan mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi pasar sebelum memutuskan perubahan suku bunga secara formal.

"Ruang pemangkasan suku bunga semakin terbatas karena fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Josua Pardede.

Potensi pengetatan moneter dalam waktu dekat juga mulai terbaca seiring dengan depresiasi rupiah yang telah melampaui ambang batas psikologis tertentu. Berdasarkan catatan historis, pelemahan nilai tukar yang signifikan biasanya menjadi pemicu bagi Bank Indonesia untuk menyesuaikan kembali arah kebijakan moneternya.

"Biasanya kalau kita lihat secara historikal, BI itu kalau rupiah sudah melemah 3 persen ke atas, itu sudah ada potensi bisa kenaikan," kata Faisal Rachman.

Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menuju level 5 persen diperkirakan bakal terjadi antara bulan Mei atau Juni 2026 mendatang. Hingga saat ini, Bank Indonesia diketahui masih mempertahankan posisi BI Rate pada level 4,75 persen yang telah berlaku sejak September 2025.

"Jadi ini kita memang perlu antisipasi, tetapi memang risiko tadi itu ada dan kami melihat peluang BI untuk menaikkan suku bunga acuan ke 5 persen itu terbuka saat ini," ucap Faisal Rachman.

Di sisi lain, faktor eksternal seperti lonjakan harga energi dunia turut mendorong sikap bank sentral menjadi lebih agresif atau hawkish dalam menjaga inflasi dan mata uang. Kondisi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.400 per dolar AS pada awal Mei 2026 menjadi perhatian serius bagi ketahanan devisa nasional.

"Skenario dasar kami adalah BI akan tetap stabil pada kuartal ini tetapi melihat kemungkinan yang meningkat untuk kenaikan bertahap guna mempertahankan mata uang pada kuartal kedua," tutur Radhika Rao.