TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan nilai tukar Rupiah menghadapi tantangan berat pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (19/6/2026). Mata uang Garuda harus mengakhiri sesi dengan kembali melemah secara substansial terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.

Berdasarkan data dari Refinitiv, Rupiah ditutup pada posisi Rp17.775 per Dolar AS pada hari tersebut. Angka penutupan ini mencerminkan depresiasi sebesar 0,42% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan ini terjadi sebagai dampak langsung dari menguatnya sentimen pasar terhadap Dolar AS di panggung internasional. Penguatan mata uang Paman Sam ini membatasi ruang gerak apresiasi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

Kondisi ini merupakan pembalikan arah dari perdagangan hari sebelumnya, Kamis (18/6/2026). Sebelumnya, Rupiah sempat menunjukkan penguatan sebesar 0,17%, ditutup pada level Rp17.700/US$ setelah Bank Indonesia (BI) mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan.

Sepanjang Jumat, Rupiah sudah tertekan sejak pembukaan pasar. Mata uang Garuda tercatat membuka perdagangan dengan pelemahan 0,73% ke level Rp17.830/US$, menunjukkan adanya tekanan jual sejak awal sesi.

Tekanan jual bahkan sempat mendorong Rupiah mencapai titik terendah intraday di level Rp17.850/US$. Namun, tekanan tersebut sedikit mereda menjelang penutupan perdagangan, sehingga berhasil tertahan di level akhir Rp17.775/US$.

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY), indikator kekuatan Dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,06% ke level 100,90 per pukul 15.00 WIB. Penguatan ini melanjutkan tren positif DXY dari sesi sebelumnya yang sempat melonjak tajam 0,76%.

Kekuatan Dolar AS dipicu oleh hasil rapat terbaru bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang dilaksanakan pada Rabu waktu setempat. Rapat tersebut merupakan pertemuan perdana di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Komentar singkat dari Warsh, bersamaan dengan proyeksi suku bunga terbaru The Fed, semakin memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa suku bunga di AS masih memiliki potensi untuk naik sepanjang tahun ini. Ekspektasi ini mendorong Dolar AS mencapai level tertinggi dalam periode lebih dari setahun.