TREN.BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan Selasa pagi, 26 Mei 2026, nilai tukar Rupiah di pasar spot menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan. Mata uang Garuda terpantau gagal mempertahankan posisinya dan kembali berada dalam tekanan zona merah sejak pembukaan sesi perdagangan.
Pergerakan negatif ini terlihat jelas berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg pada pagi hari tersebut. Tercatat, nilai tukar rupiah tergerus sebesar 26 poin atau setara dengan pelemahan 0,14 persen dari penutupan hari sebelumnya.
Posisi penutupan perdagangan pada Senin sebelumnya menempatkan rupiah di level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat. Namun, pada Selasa pagi, rupiah harus tergelincir lebih dalam hingga menyentuh posisi Rp17.768 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangan mengenai faktor utama di balik koreksi yang dialami oleh mata uang domestik ini. Menurutnya, sentimen geopolitik global menjadi pendorong utama pelemahan tersebut.
"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi terhadap dolar AS, investor wait and see menantikan respon Iran terhadap proposal damai AS yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat," jelas Lukman Leong saat dihubungi Suara.com.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang mencermati perkembangan hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Mereka mengambil sikap hati-hati sambil menunggu langkah balasan dari Teheran.
Selain isu kawasan tersebut, penguatan kembali mata uang Amerika Serikat atau greenback turut memberikan beban tambahan bagi pergerakan rupiah. Sentimen militer terbaru diyakini menjadi pemicu utama kembalinya kekuatan dolar AS di pasar global.
Lukman Leong menambahkan bahwa faktor penguatan dolar AS tersebut memberikan tekanan langsung pada mata uang Asia, termasuk rupiah. "Namun perkembangan terakhir, rupiah tertekan oleh rebound pada dolar AS menyusul serangan baru AS terhadap Iran. Range 17700-17800," imbuhnya.
Pelemahan rupiah pada hari itu bukan merupakan fenomena yang terjadi secara tunggal di kawasan Asia. Mayoritas mata uang regional lainnya juga terpantau mengalami koreksi serupa akibat dinamika global yang sama.