TREN.BISNISMARKET.COM - Pada hari Selasa, 19 Mei 2026, pukul 10.00 WIB, nilai tukar Rupiah tercatat mengalami pelemahan signifikan hingga mencapai posisi Rp 17.718 per Dolar Amerika Serikat. Pencapaian ini menandai level terendah baru sepanjang masa bagi mata uang Garuda.

Pelemahan harian Rupiah tercatat sebesar 0,28 persen pada hari tersebut, sebuah pergerakan yang diamati secara cermat oleh pelaku pasar keuangan dalam negeri. Data pergerakan ini sebagaimana dilansir dari Investasi.

Tekanan utama yang memicu kemerosotan nilai tukar Rupiah pada saat itu berasal dari faktor-faktor global yang sedang berkembang. Faktor-faktor tersebut meliputi menguatnya kinerja mata uang Dolar AS di pasar internasional serta adanya kenaikan pada harga komoditas energi dunia.

Selain itu, sentimen risk-off atau penghindaran risiko di pasar keuangan global turut memperburuk kondisi Rupiah. Sentimen ini dipicu oleh adanya eskalasi ketegangan geopolitik yang meningkatkan ketidakpastian di berbagai sektor ekonomi.

Kondisi domestik Indonesia juga berkontribusi pada tekanan yang dialami oleh mata uang Rupiah. Pasar memberikan perhatian khusus terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah yang sedang dibahas.

Fokus investor saat ini tertuju pada potensi pembengkakan beban subsidi energi nasional. Hal ini terjadi seiring dengan tingginya harga minyak mentah global yang berdampak pada kebutuhan pembiayaan negara.

Tantangan dalam pencapaian target penerimaan negara juga menjadi perhatian serius bagi pasar. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.

Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist BSI, menyoroti dampak dari kondisi pasar obligasi domestik terhadap pembiayaan pemerintah. "Yield Surat Berharga Negara (SBN) yang tinggi juga dapat meningkatkan beban bunga dan rasio pembayaran utang, sehingga biaya pembiayaan pemerintah menjadi lebih mahal," terang Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist BSI.

Meskipun demikian, analisis internal menunjukkan bahwa Rupiah masih memiliki prospek untuk menguat di masa depan. Prospek pemulihan ini bergantung pada meredanya ketegangan geopolitik dan penurunan harga energi global.