TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan hari Kamis, 9 Juli 2026. Mata uang Garuda tersebut ditutup melemah tajam saat berhadapan dengan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di pasar domestik.
Berdasarkan data dari Refinitiv, tercatat bahwa nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,44% pada penutupan hari itu. Posisi akhir rupiah berada di level Rp18.070 per dolar AS.
Level penutupan ini menandai titik terendah rupiah dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan terakhir. Ini juga merupakan pertama kalinya rupiah kembali ditutup melampaui ambang batas psikologis Rp18.000 sejak tanggal 9 Juni 2026.
Sepanjang sesi perdagangan hari Kamis, rupiah terus berada dalam tekanan jual yang konsisten. Mata uang Garuda telah dibuka dengan pelemahan 0,33% ke level Rp18.050 per dolar AS.
Tekanan tersebut semakin dalam, bahkan sempat mencapai titik terendah harian di level Rp18.095 per dolar AS. Angka ini hanya selangkah lagi sebelum menembus level psikologis berikutnya yaitu Rp18.100 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS (DXY), yang berfungsi mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau sedikit melemah 0,10% ke level 100,892 pada pukul 15.00 WIB.
Dinamika pergerakan dolar AS tetap menjadi fokus utama pasar global, didukung oleh menguatnya permintaan aset aman (safe haven) akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Kondisi ini secara historis cenderung memperkuat mata uang dolar.
Kenaikan harga energi global berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap inflasi dunia, yang kemudian memengaruhi ekspektasi pasar mengenai kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Pasar mulai menilai bahwa lonjakan harga minyak dapat mempercepat waktu kenaikan suku bunga The Fed, yang pada gilirannya mendukung penguatan dolar AS karena investor kembali memperhitungkan skenario suku bunga yang lebih tinggi di Amerika Serikat.