TREN.BISNISMARKET.COM - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia telah mengidentifikasi adanya tekanan signifikan terhadap dunia usaha akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Minggu (24/5/2026). Sektor yang paling merasakan dampak langsung dari fluktuasi kurs ini adalah industri ritel yang masih sangat bergantung pada pasokan barang jadi atau bahan baku impor.
Pelemahan mata uang domestik ini menyebabkan lonjakan biaya pengadaan barang, kenaikan ongkos logistik internasional, serta pembengkakan kewajiban pembayaran dalam valuta asing bagi para pelaku bisnis. Kondisi ini secara langsung menggerus margin keuntungan dan mengganggu stabilitas arus kas perusahaan-perusahaan ritel.
Dilansir dari Investor Daily, data pergerakan pasar menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah ditutup melemah sebanyak 47 poin, mencapai level Rp 17.716,5 per dolar AS dalam perdagangan hari Jumat (22/5/2026). Pergerakan kurs ini menjadi indikator utama kekhawatiran yang disuarakan oleh Kadin.
Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kadin Indonesia, Saleh Husin, menjelaskan bahwa mayoritas transaksi impor yang menggunakan dolar AS berdampak langsung pada peningkatan biaya operasional perusahaan secara keseluruhan.
"Kadin melihat pelemahan rupiah memberikan tekanan cukup besar bagi dunia usaha, terutama sektor ritel yang masih bergantung pada barang impor atau bahan baku impor," ucap Saleh Husin seperti dikutip pada Minggu (24/5/2026).
Tekanan finansial akibat depresiasi rupiah ini secara nyata mengurangi tingkat likuiditas perusahaan, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal pembayaran rutin dalam mata uang dolar AS. Hal ini menimbulkan tantangan serius dalam manajemen keuangan harian.
"Pelemahan kurs meningkatkan biaya pengadaan barang, biaya logistik internasional, serta kewajiban pembayaran dalam valuta asing, sehingga menekan arus kas dan profitabilitas pelaku usaha," ujar Saleh.
Saleh Husin juga menyoroti bahwa dampak paling terasa terjadi pada lini ritel yang menjual produk dengan kandungan impor tinggi, seperti elektronik, kosmetik, gadget, fesyen, dan barang-barang premium. Kelompok komoditas ini sangat sensitif terhadap dinamika pergerakan kurs global.
"Bagi sektor ritel, dampaknya paling terasa pada produk dengan kandungan impor tinggi seperti elektronik, gadget, kosmetik, fesyen, dan produk premium," kata Saleh.