TREN.BISNISMARKET.COM - Keluarga bisnis Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berhasil mencatatkan lonjakan pendapatan signifikan dari kawasan Timur Tengah sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data keuangan pemerintah AS yang baru dirilis, entitas bisnis Trump menerima pemasukan mencapai sekitar US$300 juta, setara dengan Rp5,1 triliun dengan kurs Rp17.000 per dolar AS.
Timur Tengah kini memegang posisi sebagai kawasan penyumbang pendapatan asing terbesar bagi kerajaan bisnis Trump secara keseluruhan. Secara agregat, laporan keuangan tersebut menunjukkan bahwa bisnis Trump membukukan total pendapatan lebih dari US$2 miliar dari berbagai sektor usaha sepanjang tahun 2025.
Dilansir dari The Wall Street Journal pada Sabtu (4/7/2026), sumber pendapatan terbesar berasal dari penjualan separuh kepemilikan Trump dalam perusahaan mata uang kripto, World Liberty Financial.
Dari transaksi spesifik penjualan saham kripto tersebut, Trump dilaporkan memperoleh pendapatan sekitar US$263 juta. Sebelumnya, The Wall Street Journal memberitakan bahwa pembeli saham tersebut adalah sebuah entitas yang mendapat dukungan dari Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, yang menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Uni Emirat Arab sekaligus saudara dari Presiden UEA.
Pendapatan lainnya dari kawasan Teluk berasal dari sektor lisensi properti, di mana sejumlah pengembang membayar biaya untuk memakai merek Trump. Pengembang di Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman menggunakan merek tersebut untuk proyek-proyek pembangunan gedung pencakar langit dan lapangan golf.
Disebutkan dalam laporan tersebut bahwa pengembang properti di keempat negara tersebut menyumbang sekitar US$38 juta kepada Trump Organization hanya melalui biaya lisensi sepanjang tahun 2025.
Kenaikan pendapatan ini terjadi bersamaan dengan fokus utama kebijakan luar negeri Trump yang menaruh perhatian besar pada kawasan Teluk. Selama masa jabatannya, Trump diketahui meningkatkan dukungan terhadap Israel dalam isu konflik Gaza, melancarkan tindakan keras terhadap Iran, serta mendorong negara-negara kaya di Timur Tengah untuk meningkatkan investasi di Amerika Serikat.
Pada tahun 2025, Qatar sempat memberikan hadiah berupa pesawat kepada pemerintah AS yang kemudian dimanfaatkan sebagai pesawat kepresidenan, Air Force One. Selain itu, Qatar, Arab Saudi, dan UEA juga telah mengumumkan komitmen investasi substansial di Amerika Serikat.
Pihak Gedung Putih memberikan tanggapan terkait potensi konflik kepentingan dari berbagai transaksi tersebut, yang mereka bantah.