TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah terobosan signifikan dalam pengelolaan limbah elektronik dan infrastruktur komputasi telah dicapai melalui kerja sama antara peneliti dari University of California San Diego (UCSD) dan Google. Mereka berhasil mendaur ulang ponsel pintar Pixel yang sudah tidak terpakai menjadi sebuah pusat data (data center) dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah.

Proyek inovatif ini didorong oleh keinginan untuk memperpanjang siklus hidup perangkat elektronik yang sering dibuang dan sekaligus memerangi peningkatan volume sampah elektronik global. Inisiatif ini berfokus pada pemanfaatan komponen internal dari perangkat yang dianggap usang oleh konsumen.

Google Research menekankan bahwa ponsel yang sudah dipensiunkan merupakan kontributor signifikan terhadap apa yang disebut sebagai embodied carbon, yaitu total emisi karbon yang terakumulasi selama seluruh siklus produksi perangkat tersebut. Hal ini dikutip dari Toms Hardware pada hari Jumat, 26 Juni 2026.

Mengingat tren penggantian ponsel yang sangat cepat di kalangan masyarakat, kebiasaan ini secara kolektif menyumbang pada masalah limbah elektronik yang kian mendesak. Oleh karena itu, tim UCSD berupaya keras untuk memberikan "kehidupan kedua" bagi ponsel-ponsel ini sebagai platform komputasi serbaguna yang fungsional.

Hasil pengujian mengejutkan menunjukkan bahwa single-core performance dari smartphone yang dirilis sekitar tiga tahun lalu masih mampu melampaui performa server kelas enterprise seperti Asus RS720A-E11, meskipun server tersebut dapat dilengkapi dengan komponen canggih seperti GPU Nvidia H200 atau prosesor AMD EPYC ganda.

Meskipun performa komputasi keseluruhan dari server tradisional jauh lebih unggul, data benchmark SPEC memperlihatkan bahwa inti prosesor pada ponsel lama masih memiliki kapabilitas yang memadai untuk mengeksekusi berbagai tugas komputasi yang spesifik.

Proses modifikasi ini melibatkan pembongkaran perangkat secara hati-hati, di mana komponen eksternal seperti layar, baterai, kamera, speaker, dan bodi dilepaskan sepenuhnya. Hanya motherboard yang dipertahankan karena memuat system-on-chip (SoC) yang menjadi pusat pemrosesan data.

Untuk mengoptimalkan fungsinya sebagai pusat data, sistem operasi Android bawaan diganti dengan distribusi Linux yang merupakan standar umum digunakan dalam lingkungan pusat data profesional. Langkah ini juga bertujuan menghilangkan aplikasi bawaan yang tidak perlu dan memungkinkan integrasi perangkat lunak orkestrasi modern.

Menurut temuan eksperimental, klaster yang terdiri dari 25 hingga 50 unit ponsel bekas secara kolektif dapat menghasilkan daya komputasi yang setara dengan satu prosesor server kelas dual-socket. Ini membuka peluang komputasi lokal tanpa ketergantungan pada layanan cloud yang mahal.