TREN.BISNISMARKET.COM - Badai matahari yang dahsyat dapat menimbulkan ancaman serius bagi berbagai infrastruktur krusial di Bumi, seperti satelit, sistem komunikasi, navigasi, hingga jaringan kelistrikan. Kemampuan untuk memprediksi kekuatan badai matahari secara akurat menjadi sangat penting guna memitigasi potensi kerusakan yang luas.

Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan sebuah terobosan teknologi untuk menghadapi tantangan ini. Melalui sistem kecerdasan buatan (AI) bernama Bz4SWx, para peneliti berupaya memberikan peringatan dini terhadap fenomena cuaca antariksa yang berpotensi merusak.

Tiar Dani, seorang peneliti di Pusat Riset Antariksa BRIN, menjelaskan bahwa tingkat bahaya badai matahari sangat bergantung pada arah medan magnet antarplanet yang dibawanya. Komponen krusial ini dikenal sebagai Bz dalam fisika antariksa.

"Seperti menghadapi badai di daratan, kita juga perlu mengetahui seberapa kuat badai Matahari agar dapat menyiapkan langkah mitigasi yang tepat," ujar Tiar, dilansir dari situs resmi BRIN, Minggu (11/7/2026).

Interaksi antara medan magnet antarplanet dan medan magnet Bumi menjadi kunci utama. "Ketika medan magnet antarplanet mengarah ke selatan selama beberapa jam, interaksinya dengan medan magnet Bumi akan menjadi jauh lebih kuat," jelas Tiar.

Kondisi medan magnet yang sejajar selatan ini membuat perisai magnetik Bumi lebih rentan ditembus oleh partikel dan energi dari Matahari. Hal tersebut kemudian memicu terjadinya badai geomagnetik yang dampaknya bervariasi.

Badai geomagnetik diklasifikasikan berdasarkan tingkat kekuatannya, mulai dari skala ringan (G1) hingga skala ekstrem (G5). Pada level ringan, dampaknya umumnya terbatas pada gangguan kecil pada jaringan listrik dan munculnya fenomena aurora yang indah di langit.

Namun, potensi ancaman meningkat drastis pada skala yang lebih tinggi. "Pada skala ringan, dampaknya mungkin hanya berupa fluktuasi kecil pada jaringan listrik dan munculnya aurora. Namun, jika nilai Bz sangat negatif dan bertahan lama, badai dapat menembus skala ekstrem (G5)," paparnya.

Pada level terparah, badai geomagnetik ekstrem dapat memicu arus listrik induksi yang sangat kuat. Arus ini berpotensi merusak transformator listrik, menyebabkan pemadaman listrik berskala luas seperti peristiwa di Quebec pada tahun 1989.