TREN.BISNISMARKET.COM - Honda Motor, produsen otomotif terkemuka asal Jepang, mencatatkan sejarah baru dengan melaporkan kerugian operasional tahunan untuk pertama kalinya dalam hampir 70 tahun. Pengumuman ini disampaikan pihak perusahaan pada Kamis (14/5/2026) seiring dengan besarnya tekanan biaya restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV).
Dikutip dari Money, Honda membukukan kerugian operasional mencapai 414,3 miliar yen atau setara dengan 2,61 miliar dollar AS untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Angka ini menunjukkan penurunan tajam dibandingkan perolehan laba operasional sebesar 1,2 triliun yen pada periode fiskal tahun sebelumnya.
"Lingkungan bisnis di sekitar perusahaan berubah dengan cepat, dan prospeknya tetap tidak pasti," tulis manajemen Honda dalam laporan keuangan resminya.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa pergeseran industri otomotif dan kondisi eksternal menjadi faktor utama yang menekan neraca keuangan perusahaan. Selain itu, dampak tarif Amerika Serikat sebesar 346,9 miliar yen turut menggerus margin keuntungan yang diperoleh selama setahun terakhir secara signifikan.
"Dalam lingkungan yang menantang dan kompetitif seperti ini, perusahaan juga merevisi rencana peluncuran produk untuk beberapa model EV tertentu," kata pihak Honda.
Sebagai langkah mitigasi, perusahaan memutuskan untuk melakukan perombakan besar-besaran pada peta jalan produksi kendaraan listrik mereka. Honda menyatakan akan membatalkan sejumlah rencana pengembangan model EV yang semula ditujukan untuk pasar Amerika Utara guna mengurangi beban finansial yang kian membengkak.
Meskipun kinerja keuangan menurun, harga saham Honda justru menguat 7,42 persen menjadi 1.418 yen pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Analis pasar melihat adanya reaksi positif dari para investor terhadap panduan laba perusahaan yang dinilai melampaui ekspektasi konsensus.
"Kami percaya reaksi positif harga saham didorong oleh panduan laba operasional dan laba bersih perusahaan, yang keduanya sekitar 38 persen di atas estimasi konsensus," ujar Masahiro Akita, analis dari Bernstein.
Akita menambahkan bahwa pasar saat ini masih memperhatikan apakah proyeksi tersebut telah mencakup seluruh potensi risiko investasi EV di masa depan. Di sisi lain, pakar industri menilai keterlambatan Honda dalam memasuki pasar baterai listrik menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan sepenuhnya.