TREN.BISNISMARKET.COM - Insiden yang mengganggu jalannya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin lalu, telah memicu keprihatinan mendalam dari jajaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Teror bom yang diterima sekolah tersebut memaksa pembubaran seluruh rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Republik Indonesia, Atip Latipulhayat, secara tegas mengutuk tindakan tidak bertanggung jawab yang menjadikan lingkungan pendidikan sebagai sasaran teror. Ia menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh elemen pendidikan.

"Saya menyesalkan terjadinya tindakan teror tersebut dengan menjadikan sekolah sebagai wilayah teror. Wilayah yang seharusnya dijaga bersama dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjamin keamanan dan ketenteraman dalam proses belajar mengajar. Kami mengutuk keras pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ini,” ujar Wamendikdasmen Atip Latipulhayat, seperti dikutip dari Antara.

Menyikapi situasi genting ini, pihak Kementerian Pendidikan secara resmi menyerahkan sepenuhnya proses investigasi dan penyelesaian dugaan teror bom tersebut kepada aparat penegak hukum. Hal ini dilakukan demi memastikan penanganan yang profesional dan komprehensif.

Lebih lanjut, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat juga menginstruksikan pihak sekolah untuk mengambil langkah antisipatif dengan menghentikan sementara seluruh kegiatan MPLS. Penghentian ini diberlakukan hingga adanya kepastian dan jaminan keamanan yang memadai bagi seluruh siswa dan staf pengajar.

"Kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yg berwajib untuk menangani masalah ini. Kepada pihak sekolah, untuk sementara kegiatan MPLS dihentikan dulu sampai ada jaminan situasi betul-betul aman," tegas Atip Latipulhayat.

Peristiwa ini bermula pada hari pertama pelaksanaan MPLS di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, di mana dugaan teror bom diterima melalui pesan pribadi yang dikirimkan kepada salah seorang guru. Laporan tersebut kemudian segera ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Menanggapi laporan tersebut, aparat kepolisian dari Polsek Jagakarsa, dipimpin oleh Kapolsek Kompol Nurma Dewi, segera bergerak cepat ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi terhadap seluruh siswa dan guru demi memastikan keselamatan mereka dari potensi ancaman.

"MPLS sudah dibubarkan. Kita sudah berkoordinasi dengan semua pihak. Orang tua siswa juga pada panik," ungkap Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi kepada awak media di Jakarta pada Senin tersebut.