TREN.BISNISMARKET.COM - Perum Bulog tengah gencar melakukan upaya percepatan kesepakatan ekspor komoditas beras ke dua negara tetangga, yaitu Malaysia dan Singapura. Fokus utama dalam negosiasi ini adalah memastikan penetapan harga yang adil dan memberikan keuntungan yang layak bagi petani Indonesia.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa pihaknya segera menindaklanjuti arahan langsung dari Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Arahan tersebut menekankan pentingnya mengejar peluang ekspor beras yang terbuka lebar di kedua negara tersebut.
"Kita segera tindak lanjuti atas perintah Bapak Mentan untuk langsung mengejar bola ke Malaysia maupun ke Singapura, untuk tindak lanjuti kepastian harga dan lain sebagainya," ujar Ahmad Rizal Ramdhani saat dikonfirmasi di Jakarta pada Senin, 13 Juli 2026.
Saat ini, proses pembahasan ekspor beras ke Malaysia masih menunggu kesiapan dari Pemerintah Malaysia untuk menerima kunjungan tim dari Bulog. Belum adanya kepastian jadwal kunjungan tersebut membuat proses pembahasan teknis belum dapat dilaksanakan secara langsung.
Bulog terus membangun komunikasi intensif agar kedua negara segera menyatakan kesiapannya untuk menerima pembahasan lebih lanjut. Tujuannya adalah agar proses negosiasi dapat segera menghasilkan kepastian mengenai harga dan kesepakatan perdagangan yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.
"Kami belum ke sana karena di sana belum siap. Jadi, kan kita juga nggak mungkin kita ke sana, lah sana belum bisa nerima, kan nggak enak juga. Tapi kami kejar terus supaya mereka siap terima kami sehingga biar ada kepastian deal-nya harganya berapa," jelas Direktur Utama Perum Bulog.
Ahmad Rizal Ramdhani menambahkan bahwa alasan ketidaksiapan Pemerintah Malaysia untuk menerima pembahasan merupakan urusan internal negara tersebut. Oleh karena itu, Bulog memilih untuk bersabar menunggu sembari terus aktif membangun komunikasi guna mempercepat proses kesepakatan ekspor beras.
Meskipun demikian, ia memberi penegasan bahwa arahan dari Presiden Prabowo Subianto sangat jelas mengutamakan harga ekspor yang tidak merugikan petani. Keuntungan yang layak bagi petani Indonesia menjadi prioritas utama, sejalan dengan upaya mendukung kepentingan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Perlu diketahui sebelumnya, rencana ekspor sebanyak 200 ton beras ke Malaysia saat ini masih berada dalam tahap negosiasi harga. Bulog, bersama dengan tim dari Kementerian Pertanian, berencana melakukan kunjungan ke Sarawak, Malaysia, untuk mendiskusikan lebih lanjut rencana ekspor beras dari Indonesia.