TREN.BISNISMARKET.COM - Indonesia National Air Carriers Association (INACA) angkat bicara mengenai rencana pemerintah yang akan mewajibkan penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) atau bioavtur mulai tahun 2027. Kebijakan ini menjadi sorotan utama bagi industri penerbangan nasional.

Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, menjelaskan bahwa kewajiban penggunaan SAF merupakan bagian dari komitmen global dalam program Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) yang telah disepakati oleh negara-negara anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

"Penggunaan SAF akan meningkatkan biaya operasional maskapai," ujar Bayu Sutanto. Ia merinci bahwa harga bioavtur saat ini masih berkisar empat hingga enam kali lipat lebih mahal dibandingkan avtur konvensional, sehingga berapapun proporsi campuran SAF akan berdampak pada kenaikan biaya penerbangan.

Kondisi kenaikan biaya ini sudah dirasakan oleh maskapai yang melayani rute menuju dan dari negara-negara Uni Eropa. Negara-negara tersebut telah lebih dulu menerapkan kewajiban penggunaan SAF serta berbagai skema pengurangan emisi karbon.

"Sebagai gambaran, penerbangan internasional langsung dari Jakarta menuju Amsterdam saat ini dapat dikenakan carbon tax atau carbon charge sekitar US$190 per kursi penumpang," jelas Bayu Sutanto.

"Berapa pun porsi campuran SAF akan menaikkan biaya operasional pesawat. Ini sudah terjadi untuk rute-rute penerbangan ke dan dari negara-negara Uni Eropa," ungkap Bayu Sutanto kepada Bisnis, dikutip Senin (13/7/2026).

Menyikapi hal tersebut, INACA mengusulkan agar implementasi awal kewajiban SAF difokuskan pada Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng dan Bandara Ngurah Rai di Bali. Fokus ini dikhususkan untuk penerbangan internasional guna memudahkan pengawasan dan penyesuaian.

Langkah ini dinilai lebih realistis pada tahap awal sebelum nantinya penerapan diperluas ke seluruh jaringan penerbangan domestik dan internasional. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir gejolak biaya.

Di sisi lain, keberhasilan implementasi kebijakan ini dinilai sangat bergantung pada dukungan penuh dari pemerintah. INACA menilai bahwa pemberian insentif sangat krusial agar maskapai tidak terbebani seluruh tambahan biaya akibat penggunaan bahan bakar ramah lingkungan tersebut.