TREN.BISNISMARKET.COM - Lembaga pemeringkat global, S&P Global Ratings, baru-baru ini merilis proyeksi optimis mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mereka memperkirakan ekonomi Tanah Air akan mampu menorehkan pertumbuhan konsisten di angka sekitar 5% setiap tahunnya.
Proyeksi ini mencakup periode tiga tahun ke depan, terhitung mulai dari tahun 2027 hingga 2029. Hal ini disampaikan dalam penilaian terbaru mereka terhadap peringkat kredit obligasi pemerintah Indonesia, yang dirilis pada Senin, 13 Juli 2026.
Dalam penilaian tersebut, S&P Global Ratings memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada kategori layak investasi, yaitu BBB. Tidak hanya itu, prospek peringkat kredit ini juga ditetapkan dalam status Stabil, menunjukkan keyakinan lembaga tersebut terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
"Kami memprakirakan ekonomi Indonesia akan terus tumbuh sekitar 5% per tahun selama dua hingga tiga tahun ke depan meskipun harga bahan bakar lebih tinggi," ujar S&P sebagaimana dikutip dalam laporannya, Senin (13/7/2026).
Pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan ini menjadi salah satu faktor utama yang menopang peringkat kredit Indonesia. S&P menyoroti pengaturan kebijakan ekonomi makro yang dinilai bijak oleh pemerintah.
Selain itu, beban utang Indonesia, baik eksternal maupun pemerintah, juga relatif lebih ringan jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki peringkat serupa BBB. Hal ini menjadi fondasi kuat bagi stabilitas fiskal.
Kebijakan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral dinilai S&P berpotensi besar meningkatkan penerimaan negara dan devisa ekspor. "S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor," terang S&P.
Namun, S&P juga mengingatkan adanya potensi tantangan. Laju perubahan kebijakan dan ketidakpastian dalam implementasinya dapat memengaruhi kepercayaan investor.
Hal ini berpotensi membebani nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan. "Meski demikian, laju perubahan kebijakan dan ketidakpastian atas implementasi ini bisa memengaruhi kepercayaan investor dan membenani nilai tukar serta pasar keuangan," tambah S&P.