TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena iklim global Super El Nino diprediksi akan menunjukkan peningkatan intensitasnya dalam beberapa pekan mendatang, menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya yang lebih parah.
Peringatan ini datang dari seorang pakar klimatologi terkemuka di Indonesia, Prof. Dr. Erma Yulihastin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Prof. Erma, perkembangan El Nino tahun ini menunjukkan kecepatan yang jauh melampaui kejadian serupa pada 2023. Prediksi terbarunya bahkan mengindikasikan fenomena ini akan mencapai kategori Super El Nino pada Agustus 2026.
"El Nino diprediksi akan terus menguat dan mencapai SUPER pada Agustus 2026 berdasarkan data dari BOM (Bureau of Meteorology Australia) dan JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology)," ungkap Prof. Erma dalam sebuah unggahan di akun X pribadinya, @EYulihastin, dikutip Selasa (28/7/2026).
Beliau menambahkan bahwa intensitas El Nino terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. "Indeks El Nino telah mencapai 1,74 derajat Celsius, yang menandakan status El Nino kuat dan bahkan telah melampaui puncak El Nino 2023," jelasnya.
Prof. Erma menegaskan perbandingan dengan peristiwa sebelumnya. "Nilai ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan puncak El Nino 2023. Fix, El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023," tegasnya.
Dampak fenomena ini diperkirakan akan terasa lebih luas, termasuk potensi peningkatan intensitas dan frekuensi badai tropis di Samudra Pasifik.
Badai-badai tersebut berpotensi memicu banjir di berbagai wilayah Amerika, Filipina, serta negara-negara lain di belahan bumi utara. Hal ini disebabkan oleh pergerakan badai dari Samudra Pasifik yang cenderung bergerak ke utara.
Sementara itu, Indonesia diproyeksikan akan mengalami kondisi kekeringan yang kian meluas, bertindak sebagai "daerah bayangan hujan" dari Samudra Pasifik.