- TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (20/7/2026) sesi pertama diwarnai oleh aksi jual bersih investor asing senilai Rp302,86 miliar di seluruh pasar. Meskipun demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat kenaikan signifikan.
Pada akhir sesi pertama, IHSG tercatat berada di level 6.228,92 poin, menunjukkan lonjakan sebesar 53,38 poin atau 0,86% dari penutupan sebelumnya. Pergerakan positif ini ditopang oleh penguatan mayoritas sektor, terutama konsumer primer, barang baku, energi, dan properti.
Aksi jual bersih investor asing ini terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang cenderung mengambil posisi tunggu dan lihat (wait and see). Hal ini dipicu oleh antisipasi terhadap sejumlah agenda penting dari bank sentral global maupun domestik yang dijadwalkan pekan ini.
Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu (22/7/2026). Konsensus pasar memprediksi BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%.
Sementara itu, dari kancah internasional, pasar juga menantikan keputusan terkait Loan Prime Rate (LPR) China, suku bunga European Central Bank (ECB), serta perilisan data perdagangan dan inflasi Jepang. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang turut memengaruhi sentimen investor.
Meskipun tercatat melakukan jual bersih secara keseluruhan, investor asing justru menunjukkan minat signifikan terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). Saham bank pelat merah ini tercatat diborong senilai Rp116,70 miliar, menjadikannya incaran utama di tengah arus keluar dana asing.
"Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp302,86 miliar di seluruh pasar (all market)," demikian data yang dirilis Stockbit Sekuritas, merujuk pada aktivitas perdagangan sesi I.
Aksi jual bersih investor asing terbesar pada sesi tersebut tertuju pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) senilai Rp229,11 miliar. Disusul oleh PT Astra International Tbk. (ASII) yang dilepas senilai Rp69,86 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan nilai penjualan Rp53,43 miliar.
Selain itu, sejumlah saham lain yang juga menjadi sasaran jual asing antara lain PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) senilai Rp46,87 miliar, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) Rp35,22 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp31,01 miliar.