TREN.BISNISMARKET.COM - Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menyampaikan pandangan optimis mengenai prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang melanda. Beliau menilai Indonesia tetap menjadi pasar dengan potensi pertumbuhan yang signifikan di kawasan Asia.
Peluang pertumbuhan terbesar di kawasan Asia ini, menurut Lim, terutama didorong oleh lonjakan kebutuhan energi dan pembangunan infrastruktur yang diproyeksikan terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Hal ini menandakan adanya potensi besar yang dapat dimanfaatkan.
Dalam acara CNBC Indonesia Coffee Morning pada Kamis (23/7/2026), Lim Chu Chong menyatakan, "Saat ini, Indonesia mewakili salah satu peluang pertumbuhan terbesar di kawasan ini." Pernyataan ini menegaskan keyakinannya terhadap posisi strategis Indonesia di pasar regional.
Ia memaparkan proyeksi kebutuhan listrik Indonesia yang diperkirakan akan melonjak hingga enam kali lipat pada tahun 2060, dari sekitar 300 terawatt menjadi lebih dari 1.800 terawatt. Peningkatan drastis ini seiring dengan geliat aktivitas ekonomi dan peningkatan konsumsi energi masyarakat.
Namun, peluang besar ini tidak lepas dari tantangan yang substansial. Sekitar 81% dari bauran energi Indonesia saat ini masih bergantung pada bahan bakar fosil, sehingga transisi menuju energi bersih memerlukan investasi yang sangat besar.
"Pertanyaannya bukan soal peluang. Permintaan sudah ada. Tantangan sebenarnya adalah memobilisasi modal, membangun proyek yang layak dibiayai bank, dan mengamankan pasokan energi yang andal dalam skala besar," ujar Lim Chu Chong.
Untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan, Indonesia diprediksi membutuhkan pembangunan jaringan transmisi baru sepanjang 47.700 kilometer, kapasitas penyimpanan energi sebesar 10 gigawatt, serta investasi di sektor ketenagalistrikan yang mencapai sekitar US$169 miliar.
Lim Chu Chong menilai bahwa Indonesia memiliki modal berharga berupa sumber daya alam yang melimpah serta ambisi pembangunan yang kuat. Ia menekankan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan pembiayaan dan keandalan pasokan energi untuk mewujudkan potensi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, Lim menyoroti semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi sektor energi, sumber daya alam, dan infrastruktur. Konflik geopolitik, sanksi ekonomi, fluktuasi harga komoditas, nilai tukar, hingga kebijakan transisi energi memaksa perusahaan untuk meninggalkan pendekatan bisnis konvensional.