TREN.BISNISMARKET.COM - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan jual pada perdagangan hari Kamis, 18 Juni 2026, yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah. Pelemahan ini terjadi meskipun sempat terjadi pemulihan setelah sesi pertama perdagangan menunjukkan penurunan signifikan.

IHSG secara resmi mengakhiri sesi penutupan dengan terkoreksi sebesar 48,4 poin atau 0,78%, berakhir pada level 6.172,34. Penurunan ini merupakan hasil dari aksi jual yang sempat mendorong indeks anjlok melebihi 2% dan menyentuh level terendah harian di 6.073,72 pada sesi pagi.

Data perdagangan menunjukkan bahwa mayoritas saham mengalami penurunan, dengan 445 emiten yang terdaftar ditutup melemah, berbanding 271 emiten yang menguat, dan 243 lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 17,86 triliun, melibatkan 23,55 miliar saham dalam 1,78 juta kali transaksi hari itu.

Kapitalisasi pasar saham nasional terpantau menyusut akibat tekanan jual tersebut, dengan total nilai pasar tergerus hingga mencapai Rp 10.740 triliun. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pergerakan indeks sepanjang hari itu.

Berdasarkan data Refinitiv, tiga saham yang paling signifikan menekan pergerakan IHSG adalah Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menyumbang koreksi 18,82 poin, diikuti oleh Telkom Indonesia (TLKM) dengan kontribusi minus 18,79 poin, dan Bank Central Asia (BBCA) yang menyumbang minus 18,74 poin.

Selain tiga emiten raksasa tersebut, saham-saham seperti Mora Telematika (MORA), Capital Financial (CASA), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Mandiri (BMRI) juga masuk dalam daftar saham yang memberikan kontribusi negatif terbesar pada hari itu.

Katalis utama yang diperkirakan mempengaruhi sentimen pasar hari itu adalah keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Keputusan ini juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga ini merupakan respons strategis terhadap kondisi global yang penuh ketidakpastian. "Kenaikan ini menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global," kata Perry saat konferensi pers daring pada Kamis (18/6/2026).

Lebih lanjut, Perry Warjiyo juga menegaskan bahwa kebijakan moneter tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri. "Dan ini merupakan langkah menjaga inflasi di kisaran sasaran 2,5% plus minus 1% yang ditetapkan pemerintah," paparnya.