TREN.BISNISMARKET.COM - Para peneliti di Indonesia menekankan pentingnya penelitian lanjutan mengenai sumber-sumber gempa di Pulau Jawa guna meningkatkan akurasi dalam penilaian bahaya dan risiko bencana. Hal ini merupakan langkah krusial mengingat kompleksitas geologi di wilayah padat penduduk tersebut.
Informasi ini disampaikan oleh Danny Hilman Natawidjaja, peneliti ahli utama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia menggarisbawahi adanya ketidakpastian signifikan yang masih menyelimuti pemahaman mengenai berbagai sumber gempa di Jawa.
Pulau Jawa memiliki sistem sumber gempa yang sangat kompleks, melibatkan zona subduksi atau megathrust di bagian selatan serta sejumlah sesar aktif yang tersebar di daratan. Keberadaan sesar daratan ini berpotensi memicu terjadinya gempa bumi yang merusak di masa mendatang.
"Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami," ujar Danny Hilman Natawidjaja, Dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (12/6/2026).
Salah satu struktur geologi yang kini menjadi fokus perhatian adalah Java Back-Arc Thrust, sebuah sesar naik besar yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya. Keberadaan sesar ini mengubah pandangan bahwa wilayah utara Jawa lebih aman dibandingkan wilayah selatan.
Danny menjelaskan bahwa peta bahaya gempa yang saat ini digunakan merupakan hasil interpretasi yang terus berkembang seiring dengan kemajuan data geologi dan kegempaan. Oleh karena itu, peta sesar aktif dan peta bahaya gempa harus diperbarui secara berkelanjutan, bukan bersifat statis.
Sebagai contoh, tim BRIN baru-baru ini menyelesaikan pemetaan rinci di sekitar Gunung Ciremai yang memberikan informasi baru mengenai sesar aktif dan perubahan segmen pada patahan yang sudah teridentifikasi sebelumnya. Temuan lokal semacam ini sangat penting bagi estimasi bahaya gempa di skala mikro.
"Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal," jelas Danny Hilman Natawidjaja.
Ancaman gempa bumi tidak hanya terbatas pada guncangan tanah semata, karena sesar aktif juga mampu memicu bahaya turunan seperti likuefaksi, longsor, tsunami lokal, dan terutama rekahan permukaan. Aspek rekahan permukaan ini sering kali terabaikan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur.