TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah China dilaporkan sedang aktif menyusun regulasi baru yang bertujuan membatasi akses pihak luar negeri terhadap model kecerdasan buatan (AI) paling mutakhir yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi domestik. Kebijakan protektif ini mencakup model-model yang bahkan belum resmi diluncurkan ke publik.

Langkah Beijing ini diketahui mirip dengan kebijakan yang sempat diterapkan oleh pemerintahan Trump sebelumnya di Amerika Serikat. Bulan lalu, Trump pernah meminta Anthropic untuk melarang akses model canggih mereka, Mythos 5 dan Fable 5, kepada semua warga negara asing, termasuk karyawan mereka sendiri, meski perintah tersebut kemudian dicabut bulan ini.

Dilansir dari Reuters, otoritas China telah mengadakan serangkaian pertemuan intensif dengan perusahaan teknologi besar selama sebulan terakhir untuk membahas kerangka kebijakan tersebut. Upaya ini merupakan bagian dari strategi Beijing untuk memperketat perlindungan terhadap teknologi AI, yang kini dianggap sebagai aset strategis nasional.

Sejumlah perusahaan teknologi terkemuka China yang berpartisipasi dalam diskusi tersebut antara lain Alibaba, ByteDance, dan startup AI Z.ai. Namun, menurut tiga sumber Reuters yang mengetahui jalannya diskusi, pembicaraan tersebut masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final yang ditetapkan.

Kebijakan potensial ini muncul seiring dengan meningkatnya adopsi global model AI buatan China, terutama setelah kemunculan DeepSeek R1 tahun lalu. Biaya pengembangan yang lebih kompetitif dan peningkatan kemampuan membuat produk AI China mampu bersaing secara signifikan dengan produk asal Amerika Serikat.

Jika pembatasan akses luar negeri terhadap model AI canggih ini benar-benar diterapkan oleh Beijing, pasar AI global diperkirakan akan merasakan dampaknya secara signifikan. Banyak perusahaan di berbagai negara berpotensi menghadapi lonjakan biaya operasional karena kehilangan opsi model AI China yang selama ini menawarkan harga lebih terjangkau.

Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Kementerian Perdagangan China tersebut, para peserta membahas kemungkinan penerapan pembatasan terhadap model AI paling mutakhir, baik yang bersifat tertutup (closed-source) maupun model yang lebih terbuka. Selain itu, pembahasan juga menyentuh aspek keamanan siber.

Salah satu sumber Reuters menyebutkan bahwa pejabat pemerintah juga mendiskusikan kemungkinan menjadikan kebocoran atau pencurian teknologi AI sebagai tindak pidana serius di bawah undang-undang keamanan nasional China yang dikenal sangat ketat. Pemerintah juga mempertimbangkan aturan baru terkait pihak yang diizinkan mendanai startup AI domestik.

Mengenai cakupan aturan, belum ada kepastian kapan kebijakan ini akan diberlakukan, atau bahkan apakah akan diimplementasikan secara keseluruhan. Ada indikasi bahwa kebijakan tersebut kemungkinan hanya akan berlaku untuk model AI generasi mendatang.