TREN.BISNISMARKET.COM - Sebanyak 58 individu Orang Utan Sumatra ditemukan tewas seketika pasca-terjangan Siklon Senyar di wilayah Sumatra bagian barat pada bulan November tahun lalu. Jumlah kematian satwa langka ini setara dengan sekitar 7% dari total populasi Orang Utan Tapanuli yang tersisa.

Penyebab utama kematian satwa dilindungi ini diduga kuat karena tertimbun longsoran material alam. Para pekerja kemanusiaan menemukan bangkai orang utan tersebut terkubur di antara puing-puing, lumpur tebal, dan batang-batang kayu besar di Desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah.

Penemuan mengerikan ini pertama kali diungkapkan oleh salah seorang anggota tim kemanusiaan yang berada di lokasi bencana. Decky Chandra mengungkapkan bahwa meskipun ia telah melihat beberapa korban jiwa manusia, ini adalah kali pertama ia menemukan bangkai satwa liar dalam kondisi serupa.

Kondisi fisik bangkai orang utan yang ditemukan sangat memprihatinkan, di mana bagian wajah mereka tampak terkoyak. Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures, menyatakan keterkejutannya setelah melihat foto-foto yang menunjukkan kerusakan parah pada bangkai primata tersebut.

Meijaard menjelaskan bahwa bencana longsor skala besar yang diakibatkan oleh siklon tersebut membuat satwa liar, bahkan orang utan yang dikenal kuat, tidak berdaya menghadapi kekuatan alam. Ia menambahkan bahwa kehancuran hutan secara masif membuat hewan-hewan tersebut hancur berkeping-keping.

"Pasti mengerikan ada di hutan saat itu," imbuh Erik Meijaard, menggambarkan suasana mencekam yang terjadi selama badai berlangsung.

Para peneliti mengingatkan bahwa Siklon Senyar, yang juga merenggut lebih dari 1.000 korban jiwa manusia, bukanlah kejadian sekali jalan. Mereka memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas curah hujan ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim dapat terulang di masa mendatang.

Ancaman jangka panjang dari perubahan pola cuaca ekstrem ini tidak hanya mengancam kelangsungan hidup Orang Utan Tapanuli, tetapi juga merusak habitat vital yang mereka tinggali.

Menurut hasil penelitian yang telah dipublikasikan, populasi Orang Utan Tapanuli berisiko mengalami kepunahan jika terjadi penurunan populasi melebihi 1% dari jumlah yang tercatat pada tahun 2017 lalu.