TREN.BISNISMARKET.COM - Kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) menghadapi tantangan spesifik terkait konsumsi energi untuk sistem penunjang kenyamanan kabin, terutama Air Conditioner (AC). Sistem pendingin kabin diketahui menjadi salah satu komponen utama yang menyedot daya baterai signifikan, berada tepat setelah motor penggerak utama dalam urutan konsumsi energi.
Pengoperasian fitur pendingin udara ini secara langsung memengaruhi efisiensi operasional dan jarak tempuh yang dapat dicapai mobil listrik, terutama ketika kondisi lingkungan luar sedang mengalami peningkatan suhu ekstrem. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi para pengguna EV saat melakukan perjalanan di wilayah tropis atau saat musim kemarau.
Besaran energi yang dibutuhkan untuk mendinginkan kabin sangat bergantung pada kondisi temperatur udara eksternal kendaraan. Peningkatan suhu lingkungan secara signifikan akan meningkatkan beban kerja baterai untuk memastikan ruang kemudi tetap berada pada tingkat kesejukan yang diinginkan oleh pengemudi.
Dilansir dari Suara, "Besaran konsumsi energi untuk mendinginkan kabin ini sangat dipengaruhi oleh temperatur udara di luar kendaraan." Hal ini menunjukkan adanya korelasi kuat antara suhu luar dan kebutuhan daya listrik untuk menjaga kenyamanan interior.
Penurunan daya jelajah mulai tampak jelas ketika suhu udara luar telah melampaui ambang batas 29 derajat Celsius. Sebagai perbandingan awal, penggunaan AC pada suhu lingkungan yang lebih moderat, sekitar 27 derajat Celsius, hanya mengakibatkan pemotongan jarak tempuh rata-rata sekitar 2,8 persen saja.
Namun, situasi menjadi sangat berbeda ketika temperatur meningkat tajam hingga mencapai 35 derajat Celsius. Pada kondisi panas ekstrem tersebut, penurunan efisiensi jarak tempuh kendaraan dapat melonjak drastis, bahkan mencapai angka 17 persen dari kapasitas normal.
Secara keseluruhan, akumulasi dari penggunaan pendingin kabin di tengah cuaca terik dapat mengakibatkan pemangkasan efisiensi jarak tempuh mobil listrik rata-rata mencapai 11 persen. Perbedaan ini disebabkan oleh cara kerja kompresor AC yang mengambil suplai energi langsung dari baterai utama.
Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal konvensional yang bisa memanfaatkan energi panas buangan mesin untuk operasional AC, kompresor pada EV harus menarik daya secara eksklusif dari paket baterai utama untuk memindahkan panas keluar dari kabin.
Meskipun demikian, kinerja sistem pendingin kabin ini masih tercatat jauh lebih efisien dibandingkan dengan sistem penghangat kabin atau heater yang menggunakan metode pemanasan resistansi (resistance heating). Di negara empat musim, penggunaan heater bahkan dilaporkan mampu menguras daya jelajah kendaraan hingga mencapai 17 persen.