TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) saat ini sedang fokus melakukan penataan dan konsolidasi menyeluruh di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tujuan utama dari restrukturisasi besar-besaran ini adalah untuk menciptakan tata kelola perusahaan pelat merah yang jauh lebih efisien dan produktif.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memberikan jaminan tegas bahwa proses perampingan BUMN yang sedang berjalan tidak akan berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal bagi para pekerja. Hal ini sejalan dengan arahan yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto mengenai transformasi BUMN.
Rencana ambisius ini akan mengurangi jumlah entitas BUMN dari 1.077 perusahaan menjadi hanya sekitar 200 hingga 300 perusahaan hasil konsolidasi. Meskipun terjadi penyusutan jumlah entitas yang signifikan, seluruh karyawan dipastikan akan tetap dipertahankan dan dialihkan ke perusahaan hasil merger tersebut.
Dony Oskaria menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi hak-hak pekerja selama proses transformasi korporasi ini berlangsung. "Pastinya Bapak Presiden tidak ingin ada PHK," ujarnya mengutip Badan Komunikasi Pemerintah RI, Jumat (12/6/2026).
Proses streamlining atau perampingan BUMN ini ditargetkan akan rampung pada tahun ini juga, mengingat urgensi untuk mengatasi perusahaan-perusahaan yang selama ini tercatat tidak efisien dan merugi.
Dony memaparkan bahwa dari total 1.077 perusahaan yang ada, sekitar 52% di antaranya tercatat mengalami kerugian keuangan. Akumulasi kerugian yang ditanggung oleh perusahaan-perusahaan tersebut mencapai angka fantastis, yaitu sekitar Rp20 triliun.
Untuk memastikan langkah tanpa PHK ini layak secara finansial, Danantara telah melakukan perhitungan cermat mengenai opsi mempertahankan karyawan dibandingkan melakukan efisiensi melalui pemutusan hubungan kerja. Hasil perhitungan menunjukkan penghematan dari konsolidasi jauh melampaui biaya tenaga kerja tahunan.
"Kita hitung, kalau dari perusahaan-perusahaan yang kita streamlining ini, berapa sih biaya tenaga kerjanya setahun? Ternyata cuma Rp2-triliun," jelas Dony Oskaria.
Dengan potensi efisiensi yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah, mempertahankan seluruh pekerja menjadi pilihan yang lebih menguntungkan dibandingkan memangkas jumlah karyawan. Dony menggarisbawahi keuntungan bersih yang didapatkan dari strategi ini.