TREN.BISNISMARKET.COM - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Mata uang Garuda ditutup pada angka Rp18.000 per dolar AS, menandai level terendah dalam sepekan terakhir.
Sebelumnya, rupiah telah dibuka dengan pelemahan tipis sebesar 0,14% atau ke posisi Rp17.960/US$. Namun, tekanan yang terus berlanjut membuat rupiah kehilangan 40 poin lagi hingga menyentuh angka psikologis yang krusial.
Pelemahan rupiah kali ini melanjutkan tren negatif, di mana mata uang nasional ini telah berakhir di zona merah selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar keuangan domestik.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia menunjukkan pergerakan melemah. Pada pukul 15.00 WIB, DXY terpantau turun 0,26% ke level 101,203.
Kondisi rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang negara Asia lainnya yang justru mengalami penguatan. Mata uang di kawasan ini mendapatkan dorongan positif dari pelemahan dolar AS dan jeda ketegangan antara AS dan Iran selama akhir pekan.
Dari dalam negeri, sentimen negatif yang membebani rupiah berasal dari perhatian pasar terhadap pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI). Gubernur BI, Perry Warjiyo, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Sabtu, 25 Juli 2026, dengan alasan pribadi.
"Ketidakpastian terkait proses transisi kepemimpinan, serta kekhawatiran bahwa pengganti beliau nantinya memiliki kedekatan dengan pemerintah yang dapat memunculkan kembali persepsi negatif mengenai independensi Bank Indonesia, berpotensi meningkatkan premi risiko di pasar keuangan," ujar Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rahman.
Faisal Rahman menambahkan bahwa respons pasar terhadap pengunduran diri Perry Warjiyo terlihat dari kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Namun, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan relatif lebih terbatas.
Meskipun demikian, Faisal Rahman memperkirakan dampak dari pergantian kepemimpinan ini sifatnya hanya sementara. Hal ini akan bergantung pada kelancaran proses transisi yang sedang berjalan.