TREN.BISNISMARKET.COM - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS), emiten yang bergerak di sektor bahan peledak pertambangan, melaporkan penurunan drastis pada laba periode berjalan hingga 81,9% selama semester I tahun 2026. Situasi ini terjadi meskipun pendapatan perusahaan tercatat mengalami pertumbuhan tipis.

Berdasarkan data keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 Juni 2026, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya mencapai US$1,06 juta. Angka ini jauh menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$5,86 juta.

Sementara itu, pendapatan konsolidasian perusahaan menunjukkan sedikit peningkatan, yaitu menjadi US$76,33 juta. Angka tersebut naik tipis dari realisasi US$76,08 juta pada semester I-2025.

Bisnis utama perusahaan, yaitu penyediaan bahan kimia dan bahan peledak untuk sektor pertambangan, tetap menjadi kontributor terbesar terhadap total pendapatan. Sektor ini menyumbang sekitar 95% dari keseluruhan pendapatan konsolidasian.

Menariknya, pendapatan dari lini bisnis solusi peledakan justru menunjukkan tren positif, dengan peningkatan sebesar 11% jika dibandingkan dengan capaian pada semester I-2025. Hal ini menunjukkan adanya geliat permintaan di segmen solusi peledakan.

"Pendapatan yang stabil tersebut mencerminkan permintaan yang tetap solid pada bisnis inti bahan kimia dan bahan peledak pertambangan yang terintegrasi secara vertikal," ujar Direktur Utama Ancora, Ratno "Ale" Paskalis Hendrawan.

Beliau menambahkan, "Perseroan juga terus menunjukkan kinerja keuangan yang tangguh, didukung oleh posisi terkemuka dalam manufaktur Amonium Nitrat dan penyediaan solusi peledakan, serta diperkuat oleh produksi aksesori peledak, bahan kimia lainnya, dan solusi logistik." Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis pada Senin, 27 Juli 2026.

Meskipun pendapatan menunjukkan ketahanan, laba bersih perseroan tertekan oleh adanya kenaikan berbagai pos beban operasional. Beban pokok penjualan tercatat meningkat menjadi US$57,39 juta dari sebelumnya US$53,45 juta.

Selain itu, beban operasi secara keseluruhan juga mengalami kenaikan, dari US$12,24 juta menjadi US$15,06 juta. Peningkatan beban inilah yang kemudian menggerus laba perusahaan.