TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) telah memublikasikan data mengenai negara asal impor nonmigas terbesar Indonesia untuk periode Januari hingga Mei 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa China masih memegang posisi teratas sebagai pemasok utama komoditas nonmigas bagi Indonesia.

Secara rinci, nilai impor nonmigas dari China selama lima bulan pertama tahun 2026 mencapai US$39,27 miliar. Angka ini setara dengan pangsa pasar sebesar 41,83% dari total nilai impor nonmigas nasional.

Perincian barang impor dari China menunjukkan bahwa dominasi terletak pada kategori mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya dengan kode HS 84. Komoditas ini menyumbang nilai impor sebesar US$8,73 miliar.

Selain itu, mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS 85) juga menjadi komponen impor besar dari China, dengan nilai tercatat mencapai US$8,43 miliar. Kategori plastik dan barang dari plastik (HS 39) menempati posisi ketiga dengan nilai impor US$2,33 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengonfirmasi tren ini dalam sebuah acara resmi. "Impor nonmigas dari China mencapai US$39,27 miliar, terutama didominasi oleh mesin/peralatan mekanik atau HS 84 dengan share-nya 22,24% dan tumbuh 15,20% secara C-to-C," kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (1/7/2026).

Jepang menempati posisi kedua sebagai negara asal impor nonmigas terbesar bagi Indonesia, dengan total nilai mencapai US$5,17 miliar. Kontribusi Jepang ini mencakup pangsa sebesar 5,51% dari total impor nonmigas Indonesia pada periode yang sama.

Komoditas utama yang diimpor dari Jepang meliputi mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84) senilai US$1,07 miliar, besi dan baja (HS 72) sebesar US$700 juta, serta kendaraan dan bagiannya (HS 87) senilai US$670 juta.

Sementara itu, Australia berada di urutan ketiga dengan nilai impor nonmigas sebesar US$5,02 miliar. Berbeda dengan China dan Jepang yang didominasi mesin, impor dari Australia sangat terkonsentrasi pada logam mulia dan perhiasan atau permata (HS71).

Nilai impor logam mulia dari Australia menunjukkan lonjakan signifikan, yaitu melonjak 216,88% secara kumulatif tahunan (ctc), dengan pangsa mencapai 29,83% dari total impor Australia. Indonesia juga mengimpor serealia dan bahan bakar mineral dari Australia.