TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena menarik tengah berkembang di Korea Selatan, di mana Generasi Z (Gen Z) mulai memanfaatkan aplikasi dan situs belanja "palsu". Tren ini memungkinkan pengguna merasakan euforia berbelanja atau memesan makanan tanpa harus melakukan transaksi finansial sungguhan.

Aktivitas konsumtif virtual ini dijuluki sebagai dopamine sites, berfungsi sebagai jalan keluar bagi Gen Z untuk memuaskan dorongan membeli yang tinggi tanpa dibebani penyesalan finansial akibat pengeluaran berlebihan. Hal ini terjadi di tengah kondisi biaya hidup yang semakin meningkat di negara tersebut.

Menurut Profesor Emeritus Psikologi Universitas Nasional Seoul, Kwak Keum-joo, daya tarik utama platform ini adalah kemampuannya meredam hasrat konsumsi yang terus didorong oleh lingkungan. "Saat ini, kita terus-menerus didorong untuk mengonsumsi, sehingga keinginan untuk membeli barang selalu ada," ujar Kwak Keum-joo.

Kwak Keum-joo menambahkan bahwa situs belanja virtual ini menawarkan solusi psikologis terhadap dilema yang dihadapi konsumen modern. "Namun setelah melakukan pembelian, orang sering menyesal karena telah menghabiskan terlalu banyak uang. Situs web ini mungkin menawarkan cara untuk memuaskan dorongan tersebut sekaligus mengurangi rasa penyesalan," tambah Kwak Keum-joo, seperti dikutip Korea JoongAng Daily, Sabtu (4/7/2026).

Salah satu contoh populer adalah situs pemesanan makanan virtual yang diluncurkan pada akhir Maret 2026, di mana pengguna dapat memilih menu lengkap seperti ayam goreng atau sushi. Setelah memilih, pengguna akan melalui proses checkout lengkap dengan peta pengantar virtual, namun tidak ada makanan yang benar-benar terkirim.

Sebagai gantinya, pengguna menerima notifikasi bahwa mereka telah menghemat sejumlah kalori sekaligus bukti transaksi virtual senilai sekitar US$22,38 atau setara Rp400.600, berdasarkan kurs yang berlaku saat itu. Platform ini diciptakan oleh Park Seo-hyun (27 tahun) yang terinspirasi dari kebiasaan memesan makanan larut malamnya di masa lalu.

Park Seo-hyun menjelaskan latar belakang penciptaannya: "Saya dulu memesan makanan sekitar 10 kali seminggu. Saya mudah kecanduan. Suatu hari saya bercanda ingin bisa memesan makanan tanpa benar-benar menerimanya, lalu teman-teman menyuruh saya membuat situs seperti itu." Situs ini meniru tampilan aplikasi populer seperti Baedal Minjok dan Coupang Eats, dan kini menarik sekitar 30.000 pengguna mingguan.

Tren ini meluas melampaui makanan, dengan munculnya situs belanja virtual yang menawarkan produk imajinatif, seperti pita perekat untuk memperbaiki persahabatan atau alat dari manga Doraemon. Pengguna dapat meninggalkan ulasan untuk produk yang tidak pernah ada tersebut, menciptakan pengalaman belanja yang sepenuhnya imajiner.

Pengembang situs imajinatif tersebut mengungkapkan inspirasinya: "Setiap menghadapi kesulitan, saya sering membayangkan betapa menyenangkannya jika ada alat yang bisa menyelesaikan semuanya secara ajaib. Membayangkan sesuatu tidak membutuhkan biaya dan tidak menyakiti siapa pun," jelasnya. Banyak pengguna menikmati prosesnya, karena "Mungkin karena proses berbelanja itu sendiri memang menyenangkan, bukan hanya memiliki barangnya," tambah sang pengembang.