TREN.BISNISMARKET.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026), menimbulkan dampak yang signifikan tidak hanya dari sisi korban jiwa, tetapi juga perubahan drastis pada kondisi pesisir wilayah tersebut.
Peristiwa seismik ini telah mengakibatkan sedikitnya 61 orang meninggal dunia, sementara otoritas setempat masih melakukan pencarian terhadap 40 orang lainnya yang dilaporkan hilang hingga pembaruan data terbaru.
Pemerintah Filipina mengonfirmasi bahwa guncangan kuat tersebut menyebabkan fenomena pengangkatan dasar laut (coastal uplift) dengan elevasi mencapai sekitar 2 meter. Perubahan topografi bawah laut ini kini terekspos ke permukaan atmosfer.
Dua hari setelah gempa besar terjadi, warga mulai melaporkan perubahan signifikan pada garis pantai, yang mengakibatkan bertambahnya panjang bentangan pantai hingga sekitar 200 meter di beberapa lokasi terdampak.
Menurut penjelasan dari Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, fenomena pengangkatan ini disebabkan oleh pergeseran pada Palung Cotabato yang berada di dekat kawasan tersebut.
"Pergeseran Palung Cotabato mendorong naik sebagian garis pantai Sarangani dan Davao Occidental, sehingga dasar laut yang sebelumnya berada di bawah permukaan air menjadi terekspos," tulis lembaga tersebut dalam pernyataannya, Dikutip dari CNA, Selasa (16/6/2026).
Lembaga seismologi tersebut juga memetakan bahwa tingkat pengangkatan yang terdeteksi secara akurat mencapai kurang lebih dua meter. Palung Cotabato dikenal memiliki aktivitas seismik tinggi dan pernah mengalami ribuan gempa kecil pada Januari sebelumnya.
Tim survei yang diturunkan ke lokasi menemukan bentangan terumbu karang dan padang lamun yang kini berada di atas permukaan laut akibat terangkatnya dasar samudra secara tiba-tiba.
Warga setempat sempat mengutarakan kekhawatiran bahwa bau tak sedap yang muncul berasal dari potensi pelepasan gas beracun akibat pembusukan biota laut yang mati.