TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena alam yang terjadi di tata surya kita menunjukkan bahwa jarak antara Bumi dan satelit alaminya, Bulan, tidaklah statis. Saat ini, Bulan diketahui terus bergerak menjauhi planet kita dengan kecepatan yang terukur.
Para ilmuwan telah mengidentifikasi pergerakan ini melalui data akurat yang dikumpulkan dari proyek eksperimen ilmiah. Pengukuran ini menjadi kunci untuk memahami dinamika jangka panjang antara kedua benda langit tersebut.
Perubahan jarak ini terdeteksi melalui Lunar Laser Ranging Experiment, sebuah proyek yang dimulai sejak misi Apollo pada era 1960-an. Eksperimen ini melibatkan penempatan reflektor khusus di permukaan Bulan untuk tujuan pengukuran presisi.
Bagaimana cara para peneliti mengukur pergeseran jarak yang sangat kecil ini? Mereka melakukannya dengan menembakkan sinar laser dari Bumi dan mencatat waktu yang dibutuhkan pantulannya untuk kembali setelah mengenai reflektor Bulan.
Hasil perhitungan yang didapatkan menunjukkan bahwa Bulan secara konsisten meninggalkan orbitnya saat ini dengan laju sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Pergerakan yang teratur ini membawa implikasi signifikan bagi masa depan Bumi.
Dilansir dari IFL Science, salah satu dampak visual yang paling nyata bagi pengamat di masa depan adalah potensi hilangnya Gerhana Matahari Total. Hal ini disebabkan oleh ukuran Bulan yang tampak mengecil seiring bertambahnya jaraknya dari Bumi.
Kondisi saat ini memungkinkan terjadinya Gerhana Matahari Total karena ukuran Bulan yang terlihat hampir sama dengan Matahari dari perspektif permukaan Bumi. Padahal, secara dimensi, diameter Matahari sebenarnya 400 kali lebih besar dan jaraknya juga 400 kali lebih jauh.
Sebagai perbandingan, situasi empat miliar tahun lalu sangat berbeda, di mana Bulan tampak berukuran tiga kali lebih besar dari yang terlihat saat ini karena belum menempati orbitnya yang sekarang.
Mengenai prediksi masa depan, ilmuwan NASA, Richard Vondrak, memberikan pandangan tentang tenggat waktu hilangnya fenomena langit tersebut. "Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total akan terus berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, penduduk Bumi kemungkinan besar akan menyaksikan keindahan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya," ujar ilmuwan NASA, Richard Vondrak.