TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena kematian massal ikan terjadi di beberapa wilayah Amerika Serikat sebagai dampak langsung dari cuaca panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut. Kejadian ini menarik perhatian publik dan para ahli ekologi mengenai kondisi perairan saat ini.
Salah satu insiden signifikan terlihat di Danau Como, Minnesota, di mana ditemukan ribuan bangkai ikan yang mengambang ke permukaan. Diperkirakan sekitar 1.000 ekor ikan jenis bluegill dan crappie menjadi korban akibat kondisi hipoksia, atau rendahnya kadar oksigen di air.
Kondisi serupa terjadi di negara bagian Arizona, di mana otoritas satwa liar terpaksa menutup akses publik ke Danau San Carlos tanpa batas waktu yang ditentukan. Penyebabnya adalah kekeringan parah yang menyebabkan kematian hampir seluruh populasi ikan di danau tersebut.
Sementara itu, di Massachusetts, Sungai Charles juga mengalami kematian massal ikan mas setelah gelombang panas pra-musim panas melanda. Ikan-ikan tersebut dilaporkan kelelahan setelah proses bertelur, yang diperparah oleh suhu air yang sangat tinggi.
Marielena Lima, Manajer Program Ilmu Sungai di Charles River Watershed Association, menyatakan bahwa kejadian ini terjadi di waktu yang tidak biasa. "Kematian massal ikan ini terjadi terlalu dini. Biasanya terjadi di akhir musim panas saat cuaca sangat panas. Tapi kita sudah mengalami kekeringan selama berbulan-bulan, jadi saya pikir ini hanyalah efek gabungan dari berbagai faktor terhadap ikan di daerah aliran sungai kita," ujarnya dikutip Selasa (16/6/2026).
Meskipun kematian ikan massal bukan fenomena asing, Britta Belden, manajer divisi pemantauan dan penelitian di Capitol Region Watershed District, menambahkan bahwa tidak semua kasus disebabkan oleh panas ekstrem. Mengenai peristiwa di Danau Como, ia menyebutkan bahwa fluktuasi populasi spesies tertentu memang merupakan siklus alami di danau.
Belden juga menekankan bahwa peningkatan suhu akibat perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi kejadian kematian ikan ini. "Yang terbaik yang dapat kita lakukan adalah terus mendukung kesehatan danau dan ekosistemnya," tambahnya saat memberikan keterangan kepada Star Tribune.
Studi terbaru mengindikasikan bahwa kematian massal ikan diperkirakan akan meningkat secara drastis dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini didasarkan pada korelasi yang semakin kuat antara lonjakan suhu ekstrem dan dampak negatif terhadap kehidupan akuatik.
Peristiwa ini terjadi setelah bulan Mei tercatat sebagai bulan terpanas kedua dalam sejarah pencatatan manusia, dengan suhu udara global jauh di atas rata-rata era pra-industri. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan dini bagi para ilmuwan iklim.