TREN.BISNISMARKET.COM - Sebanyak 13 perusahaan global secara serentak mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawannya pada Jumat, 15 Mei 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi melalui integrasi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di berbagai sektor industri.

Restrukturisasi besar-besaran ini bertujuan untuk menyesuaikan model bisnis perusahaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi otomasi. Fenomena pergeseran tenaga kerja global ini sebagaimana dikutip dari Lestari.

Cloudflare menjadi salah satu entitas yang memangkas lebih dari 1.100 staf untuk mendukung reorganisasi menuju era AI. Kendati demikian, manajemen menegaskan bahwa fokus utama tetap pada penguatan tim teknis dan penjualan yang dianggap krusial bagi perusahaan.

"Sangat sedikit engineer atau staf penjualan yang terdampak, dan perusahaan tetap akan agresif merekrut di bidang tersebut," ungkap CEO Cloudflare, Matthew Prince.

Sektor keuangan digital juga merasakan dampak signifikan, di mana Coinbase melepas 700 pekerja atau sekitar 14 persen dari total staf mereka. Penggunaan AI diklaim mampu mempercepat waktu kerja teknisi secara drastis melalui pembentukan unit kerja mandiri yang lebih efisien.

Sementara itu, Crypto.com merumahkan 12 persen karyawannya setelah mengintegrasikan teknologi AI ke dalam seluruh lini operasional. Pihak kepemimpinan perusahaan memandang kolaborasi antara manusia dan teknologi canggih sebagai kunci pertumbuhan di masa depan.

"Perusahaan yang bergerak cepat memadukan AI dengan pekerja terbaik akan mencapai skala dan presisi yang sebelumnya tak mungkin dilakukan," kata CEO Crypto.com, Kris Marszalek.

Penyedia layanan kontraktor Angi mengurangi 350 tenaga kerja guna menekan biaya operasional dan mengoptimalkan struktur organisasi. Di saat yang sama, Atlassian memangkas 1.600 posisi atau 10 persen dari total tenaga kerja global mereka demi mengejar pertumbuhan di sektor perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan.

"Langkah itu bagian dari penyesuaian menuju era AI. Bohong jika berpura-pura AI tidak mengubah kebutuhan keterampilan dan jumlah pekerjaan di area tertentu, itu memang terjadi," tutur CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes.