TREN.BISNISMARKET.COM - Tekanan jual yang masif masih menghantui pasar saham domestik Indonesia, menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan terakhir.

Pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, IHSG tercatat ambruk sebesar 160,46 poin atau menyentuh level 5.434,30. Secara intraday, indeks bahkan sempat mencapai titik terendah di level 5.346,91.

Aksi jual terlihat meluas di hampir seluruh lini bursa, di mana sebanyak 646 saham tercatat mengalami pelemahan. Kontrasnya, hanya 88 saham yang berhasil menguat, sementara 79 saham lainnya bertahan stagnan.

Aktivitas perdagangan menunjukkan transaksi mencapai Rp 12,92 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 20,24 miliar lembar saham, yang dibukukan melalui frekuensi transaksi sebanyak 1,38 juta kali.

Indikasi kepanikan pasar terlihat jelas pada awal sesi perdagangan, ketika indeks sempat terkoreksi lebih dari 4% hanya dalam rentang waktu sekitar sepuluh menit. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang sangat agresif pada pagi hari.

Hampir semua sektor perdagangan mengalami koreksi signifikan, kecuali sektor barang baku yang berhasil mencatatkan penguatan. Sektor kesehatan, teknologi, dan konsumer non-primer menjadi sektor yang paling dalam tertekan pelemahannya hari ini.

Beberapa emiten besar yang berperan sebagai pemberat utama kinerja IHSG pada hari itu antara lain TLKM, BBRI, dan BBCA.

Ketegangan geopolitik global masih menjadi salah satu faktor utama yang terus dicermati oleh para pelaku pasar. Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel pada Minggu (7/6/2026), merupakan kali pertama sejak gencatan senjata dengan Washington berlaku pada April lalu.

"Ketegangan ini mengancam upaya perdamaian yang masih rapuh," demikian disampaikan dalam analisis situasi global yang mencermati tuntutan Iran untuk penghentian perang di Lebanon dan pencabutan blokade AS.