TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Rabu, 1 Juni 2026, ditutup sesi pertama dengan catatan positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat kenaikan sebesar 47,39 poin atau setara dengan 0,84%, menempatkannya di level 5.690,58.
Pada saat penutupan tersebut, tercatat sebanyak 376 saham mengalami penguatan, sementara 270 saham melemah, dan 313 saham lainnya stagnan. Kenaikan ini terjadi meskipun aktivitas transaksi di pasar modal masih tergolong sepi pada perdagangan hari pertama bulan tersebut.
Secara nilai transaksi, tercatat hanya mencapai Rp 5,86 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 9,89 miliar saham yang dieksekusi melalui 876.700 kali transaksi. Ini menunjukkan bahwa minat transaksi belum sepenuhnya pulih meskipun indeks mengalami kenaikan.
Volatilitas pergerakan IHSG sepanjang sesi 1 terpantau cukup tinggi. Indeks sempat dibuka dengan kenaikan mencapai 1%, namun kemudian sempat tertekan masuk ke zona merah sebelum akhirnya berhasil membalikkan keadaan dan mencapai level tertinggi harian di 5.728,22.
Penguatan IHSG pada sesi pertama ini didominasi oleh tiga sektor utama yang menjadi pendorong utama pergerakan indeks. Berdasarkan data Refinitiv, sektor bahan baku memimpin dengan lonjakan 3,52%, diikuti oleh sektor utilitas sebesar 2,17%, dan sektor energi yang menguat 1,31%.
Secara rinci, saham BBCA menjadi penarik utama penguatan IHSG pada sesi tersebut, memberikan kontribusi bobot terbesar yakni 11,71 poin. Kenaikan ini terjadi setelah BBCA sebelumnya mengalami penurunan signifikan sebesar 11,26% dalam dua hari perdagangan sebelumnya, menandai adanya pemantulan dari level 5.500-an.
Selain itu, saham emiten milik Prajogo Pangestu, yaitu BRPT, juga memberikan kontribusi penopang yang signifikan terhadap IHSG. BRPT berhasil mencatat kenaikan 10,12% hingga sesi 1, menyumbang 7,31 poin bagi penguatan indeks secara keseluruhan pada siang hari itu.
Saham-saham lain yang turut masuk dalam daftar top movers pada sesi pertama meliputi TLKM, BREN, AMMN, dan MBMA. Kinerja saham-saham unggulan ini memberikan sentimen positif meskipun kondisi pasar secara umum masih dicirikan oleh aktivitas yang relatif lesu.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyampaikan pandangannya mengenai kondisi pasar saham Indonesia yang dianggap perlu perbaikan, mengingat IHSG masih tertinggal dibandingkan bursa regional lainnya.