TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di hari terakhir semester kedua tahun 2026 dengan kenaikan signifikan, setelah sebelumnya mengalami tekanan jual selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan ini memberikan sedikit sentuhan positif di penghujung periode tersebut.
Pada penutupan hari perdagangan, IHSG tercatat menguat sebanyak 51,93 poin atau setara dengan 0,92%, sehingga mampu bertahan di level 5.695,12. Data menunjukkan bahwa dari total emiten yang diperdagangkan, 391 di antaranya berhasil mencatatkan kenaikan harga, sementara 263 turun dan 305 lainnya stagnan.
Meskipun ditutup di zona hijau, dinamika perdagangan harian menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi sepanjang sesi. IHSG sempat dibuka dengan penguatan 1%, namun kemudian terkoreksi tajam hingga menyentuh level terendah harian di 5.607,45.
Memasuki sesi kedua, indeks sempat mencapai puncak tertinggi hariannya di level 5.737,74, sebelum akhirnya sedikit melandai saat penutupan pasar. Pergerakan yang fluktuatif ini mengindikasikan adanya tarik ulur antara tekanan jual dan beli di pasar.
Walaupun terjadi penguatan pada penutupan, sentimen pelaku pasar secara keseluruhan cenderung masih menahan diri atau wait and see. Hal ini terlihat dari minimnya aktivitas transaksi yang jauh di bawah rata-rata harian yang tercatat.
Nilai transaksi harian hanya mampu menyentuh angka Rp 10,25 triliun, dengan volume perdagangan hanya mencapai 17,05 miliar saham. Minimnya minat transaksi ini mengindikasikan kehati-hatian investor menyikapi kondisi pasar terkini.
Dikutip dari Refinitiv, saham-saham yang menjadi motor penggerak kenaikan IHSG hari itu antara lain Barito Renewables Energy (BREN), Telkom (TLKM), Barito Pacific (BRPT), dan Merdeka Battery Materials (MBMA). BREN memberikan kontribusi bobot positif terbesar, yakni sebesar 9,96 poin, diikuti oleh TLKM dengan kontribusi 9,4 poin.
Di sisi lain, saham yang menekan laju indeks hari itu dipimpin oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang memberikan bobot negatif signifikan sebesar -9,41 poin. Selain BBRI, saham-saham seperti Bank Mandiri (BMRI), Charoen Pokphand (CPIN), dan VKTR Teknologi juga masuk dalam daftar saham dengan kinerja terburuk hari itu.
Kondisi pelemahan yang berkelanjutan sebelumnya sempat mendapat perhatian serius dari regulator pasar modal. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif Dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, sempat menyampaikan pandangannya mengenai kondisi tersebut.