TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pekan ini dengan catatan negatif, terkoreksi signifikan meskipun ada beberapa sentimen pasar yang membaik. Pada penutupan sesi kedua hari Senin, 22 Juni 2026, IHSG tercatat anjlok sebesar 0,98%, setara dengan penurunan 60,45 poin, dan berakhir di level 6.116,69.

Selama pergerakan hari itu, IHSG bergerak fluktuatif dalam rentang yang cukup lebar, mencatatkan level tertinggi di 6.226,72 dan level terendah menyentuh 6.052,94. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan masih cukup ramai pada hari tersebut.

Total nilai transaksi mencapai Rp13,48 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 22,47 miliar saham yang berpindah tangan melalui 1,73 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pada akhir hari perdagangan tercatat berada di angka Rp10.735 triliun.

Dari sisi pergerakan saham, mayoritas saham mengalami pelemahan, di mana sebanyak 445 saham tercatat melemah. Sementara itu, hanya 221 saham yang berhasil menguat, dan sisanya sebanyak 147 saham bergerak stagnan.

Mayoritas sektor perdagangan mengalami pelemahan pada hari itu, dengan hanya sektor energi yang mampu mencatatkan penguatan. Sektor-sektor yang mengalami koreksi paling dalam meliputi kesehatan, barang baku, dan finansial.

Beberapa emiten besar yang memberikan beban signifikan terhadap kinerja IHSG pada hari itu termasuk BBRI, TLKM, BMRI, BBCA, dan SMMA. Pergerakan saham-saham unggulan ini turut menekan laju indeks secara keseluruhan.

Para pelaku pasar keuangan di Tanah Air pada Senin (22/6/2026) mencermati sejumlah sentimen penting, baik dari dalam negeri maupun dari kancah internasional. Salah satu fokus utama adalah pengumuman MSCI Classification yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026.

Pengumuman dari MSCI ini dianggap krusial karena berkaitan erat dengan aksesibilitas pasar dan dapat memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia. Sebelumnya, MSCI telah merilis laporan Global Market Accessibility Review 2026 yang menyatakan bahwa Indonesia tetap berstatus sebagai Emerging Market.

Namun, laporan tersebut juga memberikan catatan penting, di mana MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria Information Flow atau arus informasi dari posisi sebelumnya "+" menjadi "-". "Pengumuman MSCI pekan ini akan sangat dicermati; jika Indonesia tetap dipertahankan dengan catatan yang terbatas, tekanan terhadap pasar saham bisa mereda, namun jika MSCI memberi sinyal negatif tambahan, kekhawatiran terhadap arus dana asing dapat kembali meningkat," ujar seorang analis pasar.