TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan dan harus rela ditutup di zona merah pada penutupan perdagangan siang hari ini, Selasa, 30 Juni 2026. Penurunan ini menandai hari yang berat bagi pasar modal domestik menjelang akhir semester I tahun ini.

Secara rinci, IHSG tercatat ambruk sebesar 2,42% atau terkoreksi sebanyak 141,04 poin. Dengan demikian, level penutupan IHSG berada di posisi 5.679,75 setelah sebelumnya pada penutupan hari sebelumnya berada di 5.820,79 (-1,28%).

Mayoritas saham tercatat mengalami pelemahan pada perdagangan hari itu, meskipun volume transaksi secara keseluruhan terpantau tipis dan sepi. Dari total emiten yang tercatat, sebanyak 618 saham berada di zona merah, sementara hanya 103 saham yang mampu bertahan di zona hijau, dan sisanya 238 saham stagnan.

Aktivitas transaksi tercatat sangat lesu, dengan nilai yang hanya terpusat pada dua saham unggulan, yaitu BBCA dan PANI. Kedua saham tersebut dilaporkan menyumbang porsi signifikan hingga 61,5% dari total nilai transaksi harian yang terjadi.

Tekanan jual langsung menghantam IHSG sejak sesi pembukaan pagi hari, berbeda dengan dinamika perdagangan pada hari sebelumnya. Selama sesi perdagangan hari ini, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yaitu antara 5.638,57 hingga 5.811,67.

Saham perbankan besar BBCA menjadi penekan utama yang paling memberatkan pergerakan indeks pada sesi ini, memberikan bobot negatif hingga -18,73 poin. Penekan lainnya adalah BBRI dengan kontribusi -9,41 poin, diikuti oleh ASII senilai -6,78 poin, sementara tidak ada saham yang cukup kuat untuk menahan laju penurunan indeks.

Analis pasar memberikan pandangan bahwa sentimen negatif yang masih belum pulih dari hasil kajian lembaga rating global menjadi salah satu pemicu utama pelemahan ini. "Walau rupiah sudah stabil namun potensi downgrade status pasar masih ada," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Sekuritas, saat dihubungi oleh CNBC Indonesia pada hari Selasa (30/6/2026).

Selain isu rating, perkembangan geopolitik global juga turut menekan sentimen risiko para investor di pasar saham domestik. "Investor asing pun hanya choppy trade, masuk dan keluar dalam jangka waktu yang singkat," ucap Lukman Leong menambahkan.

Pandangan serupa mengenai kekhawatiran rating juga disampaikan oleh analis lain, Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas. Menurutnya, investor masih menanti kejelasan terkait hasil kajian dari lembaga rating S&P. "Sentimen hari ini juga lebih kepada penantian akan S&P rating," sebut Maximilianus Nicodemus.