TREN.BISNISMARKET.COM - Sinyal pelemahan dalam sektor manufaktur Indonesia terkonfirmasi setelah Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur turun ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka di bawah 50 ini mengindikasikan adanya kontraksi yang signifikan dalam aktivitas industri.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, menyoroti bahwa kondisi ini menunjukkan tekanan besar masih dialami sektor manufaktur. Tekanan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari permintaan pasar, volume produksi, hingga kenaikan biaya operasional perusahaan.

"Kontraksi PMI pada Juni juga menandakan proses stabilisasi yang sempat terlihat pada Mei belum mampu berlanjut menjadi fase pemulihan yang berkelanjutan," ujar Shinta W. Kamdani saat dihubungi Bisnis, dikutip Kamis (2/7/2026).

Dari sisi permintaan, terjadi pelemahan baik pada pasar domestik maupun pasar ekspor global. Berdasarkan data PMI Juni, pesanan baru mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, bahkan dengan laju penurunan tercepat dalam setahun terakhir.

Kondisi melemahnya pesanan baru ini mengindikasikan adanya penurunan daya beli masyarakat dan permintaan pasar secara umum, terutama di tengah kenaikan harga barang yang terjadi saat ini. Faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor dan ketidakpastian geopolitik global juga turut membebani perdagangan.

Selain tantangan permintaan, dunia usaha juga harus menghadapi lonjakan biaya produksi yang semakin tinggi. Dalam survei PMI Juni, tercatat bahwa biaya input atau masukan naik ke level tertinggi kedua sejak survei tersebut pertama kali dilakukan pada tahun 2011.

"Kondisi ini cukup berat bagi dunia usaha karena sebagian besar kebutuhan bahan baku dan barang antara industri nasional masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah dan harga input global meningkat, biaya produksi industri manufaktur ikut terdorong naik," ungkap Shinta W. Kamdani.

Ketidakpastian usaha yang meningkat mendorong pelaku industri untuk mengambil langkah yang lebih hati-hati dalam pengambilan keputusan operasional. Hal ini tercermin pada penurunan pembelian input dan penyesuaian tenaga kerja yang terjadi pada laju tercepat dalam hampir lima tahun terakhir.

Menurut Shinta W. Kamdani, dampak kontraksi ini tidak hanya terlihat pada angka indeks, tetapi juga mulai memengaruhi keputusan strategis perusahaan. Pelaku usaha cenderung mengadopsi strategi bertahan dengan memprioritaskan penjagaan arus kas, penyesuaian produksi sesuai permintaan, dan menunda ekspansi.