TREN.BISNISMARKET.COM - Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menggarisbawahi bahwa penguatan sistem pangan merupakan fondasi esensial dalam upaya mewujudkan kota yang benar-benar tangguh menghadapi berbagai tantangan ke depan.

Pernyataan penting ini disampaikan oleh Hanif saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke-18 tahun 2026 yang diselenggarakan di Medan pada hari Rabu, 1 Juli 2026.

Fokus utama penekanannya adalah pada ketahanan pangan perkotaan, mengingat tren demografi menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia kini berpusat di wilayah urban.

"Menurut data BPS, di tahun 2025 sebanyak 60% masyarakat tinggal di perkotaan. Urbanisasi yang terus meningkat membuat ketahanan pangan perkotaan tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan pasokan semata,” ujar Hanif Faisol Nurofiq.

Meskipun kota bukan selalu menjadi pusat produksi utama, wilayah perkotaan memegang peran krusial sebagai pusat konsumsi, perdagangan, logistik, dan penentu keputusan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, integrasi sistem pangan di wilayah perkotaan harus mencakup ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, stabilitas harga, serta kemampuan respons pemerintah kota terhadap gejolak secara cepat dan terkoordinasi.

Hanif menjelaskan dampak langsung dari kerentanan sistem pangan terhadap stabilitas sosial dan ekonomi kota, terutama saat terjadi krisis.

“Kita belajar bahwa ketika terjadi bencana, gangguan iklim, kenaikan harga, atau hambatan distribusi, yang pertama kali dirasakan masyarakat adalah pangan. Kalau pasokan terganggu, harganya naik. Kalau harga naik, daya beli tertekan, dan bisa membuat stabilitas sosial dan ekonomi kota ikut terdampak,” jelas Hanif.

Ketahanan pangan ditegaskan sebagai pilar utama bagi pelayanan publik yang baik, pengendalian inflasi daerah, peningkatan kesehatan masyarakat, serta jaminan ketahanan sosial secara keseluruhan.