TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan sesi kedua hari Jumat, 12 Juni 2026, menunjukkan performa impresif dengan mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 2,07%. Kenaikan ini berhasil membawa IHSG kembali melampaui level psikologis 6.000, ditutup tepat di angka 6.007,62.
Aktivitas perdagangan hari itu menunjukkan dominasi pembeli, di mana dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 615 emiten tercatat mengalami penguatan harga. Sementara itu, hanya 108 saham yang mengalami pelemahan, dan 93 saham lainnya terpantau stagnan.
Secara volume, transaksi harian mencapai frekuensi 2,40 juta kali, dengan total lembar saham yang berpindah tangan sebanyak 37,47 miliar lembar. Nilai total transaksi tercatat mencapai Rp 21,68 triliun pada penutupan akhir pekan tersebut.
IHSG mengawali perdagangan hari Jumat dengan tren positif, berhasil kembali masuk ke zona hijau setelah sebelumnya sempat mengalami fase koreksi pada sesi perdagangan sebelumnya. Penguatan ini menunjukkan adanya pemulihan sentimen investor secara umum.
Mayoritas sektor tercatat menunjukkan kinerja positif, kecuali sektor kesehatan dan teknologi yang justru mengalami pelemahan. Penguatan tertinggi justru dibukukan oleh sektor-sektor fundamental seperti energi, barang baku, konsumer primer, konsumer non-primer, dan industri.
Emiten-emiten unggulan atau blue chip serta konglomerat besar dilaporkan kompak menorehkan kenaikan harga saham yang signifikan. Beberapa nama yang menjadi motor penggerak utama kenaikan IHSG hari itu antara lain AMMN, BBCA, DSSA, BRMS, dan BUMI.
Kendati demikian, pasar keuangan Indonesia masih perlu mencermati sejumlah dinamika global, mulai dari isu geopolitik yang berkelanjutan hingga ketahanan fiskal domestik yang terus dipantau oleh para investor.
Kekhawatiran sebelumnya sempat muncul akibat kenaikan data inflasi Amerika Serikat yang berpotensi mendorong kenaikan suku bunga oleh The Fed, yang cenderung menekan aset berisiko seperti saham di negara berkembang termasuk Indonesia.
Perkembangan positif datang dari pernyataan Presiden Donald Trump yang mengindikasikan adanya peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan tersebut. Hal ini berpotensi membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.