TREN.BISNISMARKET.COM - Indonesia kini dinilai telah memasuki fase krisis iklim yang nyata akibat semakin masifnya dampak perubahan iklim yang dirasakan di berbagai sektor. Penilaian ini muncul menyusul data observasi iklim terbaru yang menunjukkan tren pemanasan signifikan.

Hal ini diperkuat oleh catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengindikasikan periode 2023 hingga 2025 sebagai tiga tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern. Data ini menjadi indikator penting mengenai urgensi penanganan isu lingkungan global.

Lebih lanjut, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memberikan peringatan bahwa suhu rata-rata global pada periode 2026 hingga 2030 berpotensi meningkat antara 1,3 hingga 1,9 derajat Celcius di atas tingkat praindustri. Peningkatan suhu ini meningkatkan risiko munculnya cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, dan gangguan serius pada ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat.

Dosen Departemen Geografi Lingkungan UGM, Emilya Nurjani, menegaskan bahwa perkembangan ini mengindikasikan Indonesia sudah berada dalam fase krisis iklim yang memerlukan respons cepat dan langkah penanganan yang terintegrasi.

"Fenomena perubahan iklim yang terjadi di Indonesia telah menimbulkan dampak yang lebih besar dan mengakibatkan gangguan terhadap kehidupan manusia sehingga dapat disebut sebagai krisis iklim karena memerlukan tindakan segera," ujar Emilya Nurjani, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (8/7/2026).

Emilya menjelaskan bahwa meskipun dunia telah menyepakati target pembatasan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius melalui Perjanjian Paris tahun 2015, target tersebut belum tercapai satu dekade kemudian. Upaya pengurangan emisi karbon yang telah dilakukan oleh berbagai negara dinilai belum efektif menekan laju pemanasan global secara signifikan.

"Kenaikan suhu Bumi yang terus berlangsung menjadi bukti bahwa berbagai upaya pengurangan emisi karbon yang dilakukan negara-negara di dunia belum mampu menekan laju pemanasan global secara signifikan," tuturnya.

Dampak kenaikan suhu udara, menurut Emilya, memicu peningkatan kebutuhan air dan mempercepat laju penguapan, yang selanjutnya memperbesar risiko kekeringan. Bersamaan dengan itu, pola curah hujan menjadi sangat sulit diprediksi, menyebabkan pergeseran signifikan pada jadwal awal musim hujan dan kemarau.

Ia menambahkan bahwa intensitas hujan ekstrem juga terus meningkat, yang berimplikasi pada potensi peningkatan banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir.