TREN.BISNISMARKET.COM - Tongkol jagung yang sebelumnya hanya menjadi limbah pascapanen di Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, kini diubah menjadi komoditas bernilai tambah. Inovasi ini dilakukan melalui pemanfaatan tongkol tersebut menjadi silase atau pakan ternak fermentasi untuk kambing.

Inisiatif pengembangan ini merupakan bagian dari Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang digagas oleh TAP Untuk Negeri. Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat sekaligus mengatasi masalah ketersediaan pakan ternak yang berkualitas.

Silase sendiri merupakan pakan hasil fermentasi bahan organik yang memiliki keunggulan dapat disimpan lebih lama dibandingkan hijauan segar. Dengan memanfaatkan tongkol jagung sebagai bahan utama, peternak kini memiliki solusi penyimpanan pakan yang berkelanjutan.

Program pemberdayaan ini dilaksanakan oleh PT Etam Bersama Lestari (EBL), anak usaha dari PT Triputra Agro Persada Tbk. Pelaksanaan program ini berfokus pada pengembangan peternakan yang berkelanjutan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal di sekitar desa.

Pemanfaatan silase ini sangat krusial karena dapat berfungsi sebagai cadangan pakan ternak saat pasokan hijauan alami mulai menipis, terutama selama musim kemarau panjang. Hal ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi musim kemarau yang lebih panjang di beberapa wilayah Indonesia.

Ketersediaan pakan ternak merupakan perhatian serius pemerintah dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman secara konsisten menekankan bahwa penguatan stok pakan adalah fondasi utama bagi ketangguhan sektor peternakan.

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Tri Melasari, menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan cuaca. "Pemerintah berkomitmen memastikan kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi, terutama bagi peternak yang berada di daerah terdampak bencana," ujar Tri Melasari.

Inovasi di Desa Tepian Terap ini menjadi contoh konkret pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung ketahanan pakan secara mandiri. Hal ini juga sejalan dengan upaya antisipatif pemerintah terhadap perubahan iklim yang mempengaruhi ketersediaan hijauan pakan.

Basirun, salah satu peternak yang terlibat dalam Program DMPA, merasakan dampak positif dari penggunaan silase ini. Ia menceritakan bahwa awalnya memiliki empat bibit kambing yang kini telah berkembang menjadi sepuluh ekor yang masih dipelihara.