TREN.BISNISMARKET.COM - Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil menempatkan diri sebagai provinsi dengan tingkat daya saing digital tertinggi di luar Pulau Jawa berdasarkan temuan terbaru. Prestasi ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam peta digitalisasi Indonesia, meskipun dominasi Jawa masih terasa kuat secara keseluruhan.

Kota Balikpapan, sebagai pusat ekonomi utama di Kaltim, turut mengukir sejarah dengan menjadi satu-satunya kota di luar Jawa yang berhasil masuk dalam daftar 10 besar kota/kabupaten dengan daya saing digital paling tinggi di seluruh Republik Indonesia. Hal ini membuktikan akselerasi transformasi digital yang terjadi di wilayah tersebut.

Informasi ini terungkap melalui pemaparan dari Laporan EV-DCI 2026, sebuah survei komprehensif yang menganalisis perkembangan digitalisasi mencakup 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten se-Indonesia. Data ini menjadi cerminan nyata kemajuan infrastruktur dan adopsi teknologi di berbagai daerah.

Secara nasional, Jakarta tetap mempertahankan posisi pucuk sebagai provinsi dengan daya saing digital tertinggi, disusul oleh Jawa Barat dan Jawa Timur. Banten dan DI Yogyakarta melengkapi urutan lima besar provinsi teratas dalam survei tersebut.

Melihat wilayah di luar Jawa, Kalimantan Timur memimpin sebagai provinsi dengan daya saing digital paling unggul. Sementara itu, Provinsi Kepulauan Riau menjadi yang terdepan dari wilayah Sumatra, dan Sulawesi Selatan memegang posisi tertinggi di kawasan Indonesia bagian timur.

Dalam peringkat kota/kabupaten, Balikpapan secara mengejutkan menempati posisi kelima secara keseluruhan. Posisi teratas diisi oleh kota-kota besar di Jawa, yakni Jakarta, Depok, Bandung, dan Tangerang Selatan yang menempati peringkat dua hingga empat.

Data EV-DCI 2026, yang telah dikumpulkan selama tujuh tahun terakhir, merefleksikan pertumbuhan transformasi digital yang stabil di Indonesia. Rata-rata skor provinsi telah mengalami peningkatan signifikan sebesar 50 persen sejak laporan pertama kali diterbitkan pada tahun 2020.

Salah satu lonjakan peringkat terbesar dicapai oleh Provinsi Papua Barat Daya pada tahun 2026 ini, yang naik hingga 15 posisi. Peningkatan ini didorong oleh pembangunan infrastruktur digital yang masif, khususnya di wilayah perdesaan, serta peningkatan rasio pekerja yang memanfaatkan internet untuk kegiatan berjualan.

Namun, laporan ini juga menyoroti adanya kesenjangan digital yang lebar antara wilayah terdepan dan tertinggal. Skor EV-DCI DKI Jakarta mencapai angka 79,6, sementara Papua Pegunungan tercatat paling lemah dengan skor hanya 20,5, menunjukkan tantangan pemerataan akses digital.