TREN.BISNISMARKET.COM - Anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak menjadi sorotan serius bagi Center of Reform on Economics (Core) Indonesia belakangan ini. Lembaga kajian ekonomi tersebut menilai bahwa penurunan harga ini tidak semata-mata disebabkan oleh melimpahnya pasokan atau oversupply yang terjadi di lapangan.

Menurut pengamatan Core Indonesia, isu harga telur ini memiliki akar permasalahan yang jauh lebih dalam dan struktural. Salah satu pemicu utamanya adalah adanya ekspektasi permintaan yang terlalu tinggi terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.

Pengamat Pertanian Core Indonesia, Eliza Mardian, menjelaskan bahwa lonjakan produksi telur terjadi karena para pelaku usaha memiliki harapan besar terhadap serapan telur dari program MBG. Namun, realisasi permintaan yang terjadi ternyata tidak sebesar yang sempat diperkirakan sebelumnya.

Dilansir dari Bisnis.com, Eliza Mardian menggarisbawahi bahwa meskipun kelebihan pasokan memang signifikan, ada faktor struktural yang lebih krusial dalam masalah ini. Ia menyebutkan bahwa "Ekspansi produksi yang masif ini sebagian didorong adanya ekspektasi demand dari program MBG yang ternyata overstated, ditambah melemahnya daya beli masyarakat. Yang lebih krusial lagi adalah kegagalan koordinasi perencanaan supply-demand secara nasional serta inefisiensi rantai pasok yang sangat panjang," ketika dihubungi pada Kamis (25/6/2026).

Eliza juga menyoroti kesenjangan harga yang mencolok antara produsen dan konsumen akhir. Ia mengungkapkan bahwa penurunan harga di tingkat peternak tidak diikuti oleh penurunan signifikan di tingkat ritel.

Hal ini disebabkan oleh peran distributor dan perantara (middleman) yang masih mengambil margin keuntungan yang cukup besar dalam rantai distribusi. Akibatnya, selisih harga antara peternak dan toko pengecer tetap lebar dan merugikan produsen.

Lebih lanjut, struktur pasar yang timpang turut memperburuk kondisi peternak kecil yang cenderung menjadi price taker. Eliza menjelaskan bahwa peternak mandiri kesulitan mendapatkan akses langsung ke pembeli besar atau offtaker karena kekuatan pasar yang tidak seimbang.

Kondisi ini diperparah oleh karakter oligopolistik di sektor hulu industri perunggasan, seperti pakan dan day old chick (DOC). Eliza menambahkan bahwa "Kita harus paham juga adanya ketidakseimbangan kekuatan pasar yang makin kentara yaitu industri upstream seperti pakan dan DOC [day old chick] sudah menunjukkan karakter oligopolistik, di mana satu perusahaan saja bisa menguasai sekitar 35% pasar, dan top player integrator besar punya integrasi vertikal yang memberi mereka daya tahan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peternak rakyat kecil yang mandiri,” ujarnya.

Meskipun pemerintah telah mendorong sektor Horeka, ritel modern, dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan serapan telur, Core menilai langkah ini hanya bersifat sementara. Eliza berpendapat bahwa upaya tersebut belum mampu mengatasi akar permasalahan secara berkelanjutan.