TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan bursa saham diwarnai dengan koreksi tipis pada hari Kamis, 11 Juni 2026, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan momentum kenaikan yang telah terukir selama dua hari berturut-turut. IHSG tercatat menutup sesi dengan penurunan sebesar 0,28%, berakhir di level 5.886,03.
Apa yang terjadi di pasar kemarin menunjukkan adanya pergeseran sentimen, di mana mayoritas saham justru mengalami tekanan jual. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 419 saham harus rela ditutup melemah, berbanding dengan 265 saham yang berhasil menguat dan 131 saham yang stagnan.
Aktivitas transaksi pada hari tersebut tetap cukup likuid, meskipun terjadi koreksi minor pada indeks utama. Tercatat nilai transaksi mencapai Rp22,27 triliun, di mana volume perdagangan mencapai 33,65 miliar lembar saham yang berpindah tangan melalui 2,37 juta kali transaksi.
Siapa yang paling aktif dalam aksi jual tersebut? Data menunjukkan bahwa investor asing kompak mencatatkan penjualan bersih (net sell) di pasar domestik. Secara keseluruhan, penjualan bersih asing mencapai Rp252,65 miliar, dengan angka yang lebih tinggi tercatat di pasar reguler yakni sebesar Rp260,61 miliar.
Namun, perlu dicatat bahwa aksi jual asing ini tidak terjadi secara merata di semua segmen pasar. Terdapat catatan adanya pembelian oleh investor asing senilai Rp8,95 miliar yang dilakukan di segmen pasar negosiasi dan tunai, sebagai penyeimbang dari penjualan yang dominan.
Pertanyaan besar muncul terkait saham mana saja yang menjadi sasaran penjualan bersih asing secara signifikan pada hari IHSG terkoreksi tersebut. Mengacu pada data yang dihimpun dari Stockbit, teridentifikasi sepuluh saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing pada perdagangan Kamis.
Menariknya, volume net sell asing pada hari ini sebenarnya menunjukkan tren penurunan dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, menandakan potensi meredanya tekanan jual besar. Sebagai perbandingan, pada dua hari perdagangan sebelumnya, total net foreign sell mencapai angka fantastis yakni Rp2,45 triliun dan Rp3,13 triliun.
Kondisi ini menjadi kontras jika dilihat dari pergerakan IHSG pada dua hari sebelumnya, di mana meskipun asing mencatat net sell jumbo, IHSG justru melonjak tajam. Indeks berhasil mengakumulasi kenaikan signifikan sebesar 7,57% pada 9 Juni 2026 dan 2,71% pada 10 Juni 2026.
Kenaikan historis tersebut merupakan titik balik penting bagi pasar modal Indonesia, setelah sebelumnya indeks sempat tertekan parah hingga menyentuh level terendah di kisaran 5.300-an. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen domestik sempat lebih kuat dari aksi jual asing.