TREN.BISNISMARKET.COM - PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mencatatkan pencapaian signifikan dengan menempati peringkat kedelapan dalam daftar saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per Rabu, 13 Mei 2026, nilai pasar perusahaan infrastruktur telekomunikasi Grup Sinar Mas ini mencapai Rp 328 triliun.

Capaian tersebut menempatkan MORA secara resmi di atas PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dalam hal valuasi pasar di bursa saham domestik. Data menunjukkan bahwa TLKM berada tepat di bawah MORA, dengan nilai kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 293 triliun per tanggal yang sama.

Pergeseran peringkat ini terjadi sebagai dampak langsung dari efektifnya merger antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) dan PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia). Proses penggabungan usaha kedua perusahaan ini telah diresmikan sejak tanggal 22 April 2026.

Sebelum merger berlangsung, Moratelindo dikenal sebagai penyedia utama layanan akses jaringan serta tulang punggung serat optik di Indonesia. Sementara itu, MyRepublic Indonesia fokus pada layanan pelanggan ritel melalui jaringan kabel yang dimilikinya.

Data operasional per September 2025 menunjukkan bahwa Moratelindo mengelola infrastruktur serat optik sepanjang 57 ribu kilometer, didukung oleh enam pusat data yang beroperasi. Di sisi lain, MyRepublic Indonesia melayani sebanyak 1,52 juta pelanggan ritel dengan bentangan jaringan kabel sepanjang 58 ribu kilometer.

Di sisi lain, TLKM saat ini tengah fokus pada restrukturisasi aset strategis mereka, salah satunya melalui pemisahan usaha aset serat optik ke dalam anak usaha baru, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (Infranexia). Proses spin-off ini ditargetkan rampung pada kuartal III tahun 2026.

Selain pemisahan internal, TLKM juga sedang menjajaki peluang konsolidasi aset serat optik yang dimiliki oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya strategis TLKM untuk memperkuat posisi infrastruktur telekomunikasi nasional.

Langkah strategis TLKM ini menarik perhatian lembaga analis keuangan, seperti yang tertuang dalam riset pasar terbaru dari BRI Danareksa Sekuritas. Analis Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menyampaikan pandangan mereka mengenai potensi konsolidasi tersebut.

"Kami memperkirakan bahwa penambahan aset serat optik milik PLN akan membantu memulihkan skala bisnis serta memperkuat potensi monetisasi, sehingga lebih menarik bagi investor strategis," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan.