TREN.BISNISMARKET.COM - Industri perbankan global kini menghadapi gelombang kecemasan baru yang dipicu oleh kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran utama muncul setelah diperkenalkannya model AI canggih bernama 'Mythos' dari Anthropic, yang diklaim mampu mendeteksi kerentanan sistem dengan mudah.
Para bankir dari institusi keuangan besar di seluruh dunia berkumpul dalam konferensi tahunan European Central Bank (ECB) di Portugal baru-baru ini. Pertemuan tersebut difokuskan pada bagaimana AI dapat mengubah lanskap keuangan dan menciptakan tantangan keamanan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Kekhawatiran terbesar adalah potensi sistem canggih seperti 'Mythos' dimanfaatkan oleh aktor jahat untuk melancarkan serangan siber yang lebih cepat dan terstruktur. Bank yang menyimpan data sensitif dan aset bernilai tinggi berpotensi besar menjadi sasaran empuk bagi pembobolan sistem.
Konsensus yang dicapai dalam diskusi di Sintra tersebut menyimpulkan bahwa AI memiliki kapasitas untuk mendisrupsi hampir semua aspek kehidupan, mulai dari pasar keuangan, ketenagakerjaan, hingga penyaluran kredit perbankan. Diskusi ini juga menyentuh isu keamanan energi dan permintaan listrik yang turut dipengaruhi oleh perkembangan AI.
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah dampak AI terhadap stabilitas keuangan, baik saat kinerjanya melebihi ekspektasi maupun saat hasilnya di bawah harapan pasar. "Jika AI memberikan hasil yang melampaui ekspektasi, hal itu akan berdampak pada stabilitas keuangan. Jika AI memberikan hasil di bawah ekspektasi, hal itu juga akan berdampak pada stabilitas keuangan," ujar Torsten Slok dari Apollo Global Management kepada para penentu kebijakan suku bunga dunia.
Tema AI mendominasi seluruh rangkaian diskusi di Sintra, bahkan mengalahkan sorotan utama lainnya, termasuk debut Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, dalam pertemuan dengan bankir sentral lainnya. AI menjadi bintang utama dalam acara tiga hari tersebut, yang berlangsung pada Kamis (2/7/2026).
Meskipun para pakar mengakui potensi AI untuk meningkatkan banyak sektor kehidupan, kekhawatiran mendalam muncul mengenai bagaimana teknologi ini dapat mengganggu kehidupan, bahkan secara ilegal. Para pejabat keuangan merasa memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki perangkat yang memadai untuk mengendalikan laju perubahan ini.
Kevin Warsh bahkan menyebut periode ini sebagai momen paling transformatif bagi perekonomian di masa hidup kita, menyoroti ketidakpastian akan dampak jangka panjang teknologi baru ini. "Siapa sangka saat internet lahir, teknologi itu akan menciptakan 1,5 juta lapangan kerja sebagai pengemudi Uber? Kita baru berada di tahap awal dari revolusi ini," ungkapnya dalam forum ECB.
Dalam konteks perdagangan, muncul kekhawatiran tentang kemampuan algoritma yang didorong AI untuk menciptakan gelembung pasar dengan kecepatan ekstrem, yang kemudian dapat memicu kejatuhan pasar. Profesor Itay Goldstein dari University of Pennsylvania menyoroti risiko manipulasi pasar yang lebih canggih.