TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mengumumkan bahwa laju inflasi di ibu kota mencapai 0,41% pada periode Juni 2026 secara bulanan atau month-to-month (MoM). Angka ini menunjukkan adanya pergerakan harga yang perlu diwaspadai oleh masyarakat dan pemangku kepentingan.

Sementara itu, jika dilihat secara tahunan atau year-on-year (YoY), inflasi DKI Jakarta tercatat berada pada level 2,78% per Juni 2026. Angka ini menunjukkan stabilitas harga dalam periode 12 bulan terakhir meskipun terjadi kenaikan signifikan pada basis bulanan.

Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta, Kadarmanto, memaparkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,81 pada Mei 2026 menjadi 110,26 pada Juni 2026. Selain itu, ia menambahkan bahwa inflasi secara tahun kalender, dihitung dari Desember 2025 hingga Mei 2026, tercatat sebesar 1,65%.

Sektor yang paling signifikan mendorong inflasi bulanan di Jakarta adalah kelompok transportasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,54%, memberikan kontribusi inflasi Kota Jakarta sebesar 0,34%.

"Kalau kita lihat dari kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar ini ternyata adalah transportasi. Ini yang mengalami inflasi sebesar 2,54% yang selanjutnya memberikan andil inflasi Kota Jakarta ini sebesar 0,34%," ujar Kadarmanto, sebagaimana dikutip dari akun YouTube BPS.

Komoditas utama yang mendominasi kenaikan harga di sektor transportasi adalah bensin, khususnya Pertamax. Aspek kenaikan harga bahan bakar ini memberikan andil inflasi yang cukup besar, yaitu mencapai 0,29%.

Kadarmanto menyebutkan bahwa inflasi sektor transportasi pada Juni 2026 merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kontributor utama dalam kelompok ini selain bensin adalah angkutan udara dan mobil.

"Nah, khusus untuk mobil ini barangkali kita tahu ini karena apa itu terjadi gangguan atau terkait dengan imported mobil gitu terbatas dan juga spare part-spare part-nya gitu ya," sambung Kadarmanto.

Meskipun sektor transportasi mendominasi inflasi, terdapat beberapa komoditas yang justru memberikan tekanan deflasi. Komoditas tersebut antara lain daging ayam ras (-0,03%), telur ayam ras (-0,01%), cabai rawit (-0,01%), pepaya (-0,01%), dan ikan kembung (-0,01%).