TREN.BISNISMARKET.COM - PT Pertamina (Persero) saat ini tengah mencermati fenomena pergeseran pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) oleh masyarakat. Fenomena yang disebut shifting ini mengacu pada perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi menuju BBM bersubsidi, yaitu Pertalite.
Perhatian Pertamina ini muncul karena adanya disparitas harga yang cukup signifikan antara Pertamax (RON 92) dan Pertalite sejak Juni 2026. Harga Pertamax ditetapkan sebesar Rp16.250 per liter, sementara Pertalite dijual dengan harga yang jauh lebih rendah, yakni Rp10.000 per liter.
Vice President (VP) Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa perusahaan belum dapat membeberkan data spesifik mengenai perubahan pola konsumsi konsumen tersebut. Meskipun demikian, pemantauan intensif tetap dilakukan oleh pihak Pertamina.
"Datanya nanti kita coba mintakan ya. Kalau shifting atau kegiatan perubahan dari pengguna, sebenarnya ini memang kami terus memantau," ucap Baron saat ditemui di Grha Pertamina, Jakarta, pada Kamis (2/7/2026).
Baron menambahkan bahwa fokus utama Pertamina saat ini adalah memastikan kelancaran penyaluran BBM di seluruh wilayah operasional. Hal ini mencakup pengawasan terhadap distribusi BBM nonsubsidi maupun BBM bersubsidi.
"Dalam penyalurannya sendiri, kami melihat bagaimana kami menyalurkan BBM nonsubsidi dan BBM subsidi tersebut," tutur Baron.
Hal ini berbarengan dengan kebijakan Pertamina yang baru saja melakukan penyesuaian harga untuk beberapa jenis BBM nonsubsidi efektif sejak Rabu (1/7/2026). Penurunan harga berlaku untuk Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite.
Secara rinci, harga Pertamax Turbo mengalami penurunan sebesar 7%, dari sebelumnya Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex turun 15% dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.
Adapun harga Dexlite mengalami pemotongan harga sebesar 14%, yaitu dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter. Sementara itu, harga Pertamax dan Pertamax Green 95 tetap stabil seperti pada bulan Juni 2026.